Novel “Pintu Terlarang”, Sebuah Imajinasi Tak Terbendung

Awalnya saya pernah melihat film dengan judul yang sama muncul di sebuah bioskop di kota saya. Pintu terlarang. Waduh, film apaan nih, apalagi mukanya si Fahri Albar gede banget sampe ngabisin banner. Iseng-iseng saya cari resensinya, ternyata film itu diangkat dari sebuah novel karya Mbak Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama. Saya pikir, wah pasti filmnya berbau-bau berat dan psikologis banget (maksud saya, bener-bener menggali kejiwaan seseorang dengan sangat dalam dan membiarkan pembacanya larut dalam kejiwaan karakter-karakternya), yah agak-agak miriplah sama Ayu Utami kalo buat novel. Tapi waktu itu saya lupa kenapa sampe saya ga sempet nonton itu, yang jelas film itu gak lama beredar di bioskop itu, kalah sama film-film bergenre horor, heheee… ga tau sih, tapi kayaknya tipikal penonton di bioskop yang ITU memang gak jauh-jauh dari tema horor. Jadi kalau gak horor ya gak laku J.

Anyway, saya sempet lama juga nyari buku ini, sampai-sampai saya lupa. Dan baru akhir Desember kemarin gak sengaja ngeliat di toko buku, langsung deh diambil.

Pintu Terlarang berkisah tentang beberapa karakter yang sangat kuat, dilatarbelakangi sekelumit cerita mengenai bagaimana sampai karakter tersebut terbentuk hingga sampai menjadi yang seperti itu.

Pertama, Gambir, pematung sukses dan baru saja pameran tunggal dan dapet omzet bermilyar-milyar, actually ga ada yang salah dengan ni orang, yang salah adalah lingkungannya, dimana dia dibesarkan oleh Ibu yang kolot yang menganggap seniman bukanlah sebuah pekerjaan. Ibunya khawatir masa depan si Gambir gak jelas, karena dulunya juga bapaknya si Gambir ini adalah pelukis dan hidup keluarga mereka gak karuan karena ga ada penghasilan tetap. Satu lagi, yang bikin Gambir nih pusing adalah istrinya yang sangat dominan, tapi Gambir sayang banget dengan istrinya named Talyda ini. So, Gambir is wishy washy, takut istri, geblek sekaligus naif.

Talyda digambarkan sebagai karakter yang perfeksionis, mulai dari pakaian yang dipakai, masakan yang dibuat, dll. Tentu saja ini hasil “asuhan” orang tuanya, sama seperti Gambir. Karakter perfeksionis inilah yang membuat dia selalu ingin tampil sebagai istri yang sempurna, punya banyak ide brilian (sekaligus gila, sadis, dan tanpa perasaan), yang membuatnya terlihat menjadi penentu segalah hal di dalam keluarganya. Termasuk ketidakinginan mendapat anak dari Gambir.

Dinamika keluarga kecil ini mewarnai sekitar 60-70% novel Sekar, diselingi dengan cerita seorang anak kecil berumur 9 tahun yang selalu mendapat siksaaan dari kedua orang tuanya.

Karakter lain yang sesekali muncul adalah sosok Ranti, seorang wartawan, dan Dion, duda satu anak. Keduanya terlibat sangat intim di sebuah liputan tentang kekerasan terhadap anak-anak yang dilakukan orang tuanya. Karakter Ranti dan Dion memang tidak sekuat Gambir dan Talyda, tapi percayalah, merekalah inti ceritanya J.

Cerita mengalir hingga tiga cerita ini perlahan mulai menunjukkan benang merah hampir di akhir-akhir cerita. Ujungnya agak sadis *saya membayangkan gimana ya dengan filmnya*, walaupun ujungnya cukup happy ending (sebenernya apa sih arti hepi ending heheheee… pokoknya akhir ceritanya melegakan lah).

Kalo masalah cerita sih, Anda bisa cari sendiri novelnya, yang jelas tidak mengecewakanlah, terutama bagi yang suka novel-novel yang isinya adalah orang dengan karakter-karakter kuat, ambigu sekaligus menantang. Apalagi ditambah dengan alur cerita yang unpredictable, memang jalannya agak ketebak tapi ternyata tebakannya nyasar hehee… itupun gara-gara saya udah baca resensinya, coba kalo belum, pasti gak ketebak J.

Kalau dari sudut penuturan bahasa, cukup bagus, penekanan karakter dan dinamika ceritanya dapet, pembaca gak perlu mengerut-ngerutkan dahinya *beda misalnya dengan Mbak Dee kalau bikin cerita memang bahasanya agak tinggi*, asal sabar aja ngikutin jalan ceritanya, pasti sampe juga di poin alasan-alasan atau latar belakang si A melakukan sesuatu, si B dapet nih barang dari mana, dll.

Dari sudut tema ceritanya pun bagus, child abuse. Bagaimana sih kehidupan kejiwaaan seorang anak yang mengalami kekerasan domestik, bagaimana caranya “bertahan” dari ketidaksadarannya yang sudah schizofren, bagaimana ia bermain-main dengan imajinasinya “hanya” untuk bertahan dari ketidaksetimbangan psikologisnya. Bagus banget. Setelah membaca ini, saya jamin Anda akan mendapat lebih dari sekedar bacaan. Setelah Anda menutup lembar terakhir novel ini, niscaya Anda akan memulai lembaran baru di benak Anda sendiri. Percaya gak?

Novel ini saya rekomendasikan untuk pemerhati masalah kekerasan anak, mahasiswa psikologi (terutama klinis) dan siapapun yang ingin mencari lebih dari sekedar bacaan pengantar tidur J.

Mon, January 11st 2010

19.30 PM

3 thoughts on “Novel “Pintu Terlarang”, Sebuah Imajinasi Tak Terbendung

  1. Pingback: Novel vs Film « ghie

  2. kaya nya bagus nih.
    tapi ada gak cerita yang lebih mikir kaya film double atau khoherence atau philosophers.
    suka benget mba` kenalin saya iman.
    lulusan d3 M.asuransi
    terimakasih sebelumnya
    mudah”an dijawab di email

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s