Take Me Out Indonesia, Lebih dari Sekedar Menonton, Bisakah?

Berhubung ini sudah di penghujung tahun, saya ingin ngobrol apa tayangan televisi yang sangat fenomenal di tahun 2009. Tentu banyak yang setuju bahwa salah satu jawabannya adalah program reality show (atau apa lah namanya saya juga ga ngerti) Take Me Out Indonesia dan Take Him Out Indonesia.  Setelah di tahun 2008, program yang cukup fenomenal menurut saya adalah “Termehek-Mehek” yang sempat naik daun dan menjadi trend setter program-program sejenis di stasiun televisi, namun akhirnya ratingnya jatuh gara-gara isu bahwa reality show itu dibuat-buat (yang akhirnya diamini bahwa memang ada beberapa bagian yang direka dengan alasan si empunya cerita tidak mau melakoni sendiri perannya). Ujung-ujungnya tulisan “reality show” diubah menjadi “drama reality.”

TMO Indonesia menaikkan lagi pamor Indosiar setelah beberapa waktu kiprahnya kurang bergaung setelah kesuksesan AFI dan Mamamia beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya saya sih bukan television-addict, tapi TMO ini memberi saya pandangan lebih dari sekedar ajang pencarian jodoh. Terlepas dari kontroversinya (dengan adanya isu untuk mengharamkan tayangan ini), TMO adalah suatu acara dimana kamu bisa melihat bagaimana cara seseorang memilih pasangannya. Percaya atau tidak, semakin kamu memperhatikan bagaimana karakter orang, kamu akan tahu, siapa yang bakal dipilihnya.

Ya, mengetahui karakter orang. Sebenarnya itulah tujuan utama saya menonton acara ini. TMO bisa mengasah intuisi kamu untuk mengenal kepribadian orang lain, mengetahui kira-kira apa yang diinginkan seseorang, bagaimana jalan pikirannya, bagaimana ia memaknai hidup, akan menuntunmu ke arah bagaimana ia memilih pasangan. Lebih jauh lagi, apakah ketika ia sudah memilih pasangannya, ia akan serius, atau cuma main-main. Yes, it works. Yah, minimal saya bisa mendapatkan pelajaran yang berharga tentang tipe-tipe orang dan bagaimana cara mengenali pribadinya, hingga perilaku apa yang mungkin akan muncul saat ia memilih pasangan. Sebab, memilih pasangan hidup (syaratnya memang serius ya), sama seperti memilih jalan hidup, sama seperti memilih kepribadian tertentu untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Sebab saya percaya, televisi adalah suatu barang yang netral. Which is dia akan menjadi barang yang memberikan dampak negatif atau positif, ya tergantung bagaimana kamu memaknainya.

Saturday, Dec 26th 2009, 22.45 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s