Kepuasan Kerja, Sesuatu yang Perlu Disurvey (?)

Setelah proyek rekrutmen calon karyawan baru yang berakhir sekitar pertengahan tahun, saya kembali terlibat dalam satu pekerjaan besar lainnya. Kegiatan Survey Kepuasan Kerja Karyawan. Awalnya saya diikutkan mengingat latar belakang pendidikan saya yang pernah belajar konstruksi alat ukur, sehingga diperlukan untuk membuat alat ukur survey dalam bentuk kuesioner. Mulai sekitar bulan puasa(Agustus-September 2009), saya tergabung dalam tim ini. Alhamdulillah sekitar bulan Oktober, kegiatan survey kepuasan kerja secara internal sudah selesai. Dan pada bulan yang sama jugalah, kegiatan survey yang sama dicetuskan oleh holding company (dimana perwakilan dari perusahaan tempat saya bekerja ditunjuk sebagai ketua tim surveynya). Dan saya kembali dipercaya untuk masuk ke dalam tim survey, sampai sekarang proses tersebut masih berjalan, dan diharapkan akhir Januari 2010 sudah muncul laporannya. Jadi kalau dipikir-pikir, dalam setengah tahun terakhir, inilah proyek besar saya selain pekerjaan-pekerjaan rutin lainnya J

Eniwey, pada postingan ini saya tidak akan bercerita tentang proses survey, apalagi membahas teorinya. Ya mungkin kalau saya lagi iseng, di kesempatan lain sajalah. Yang ingin saya sharing sekarang adalah makna sebuah istilah “Kepuasan Kerja” bagi seorang karyawan.

Ada sebuah pernyataan yang cukup menggelitik saya ditengah-tengah saya sedang melaksanakan survey ini. Seseorang pernah bertanya retorik “Survey Kepuasan Kerja adalah sesuatu yang sangat subjektif dan utopis, karena yang namanya manusia tidak akan pernah puas.” Saya pikir-pikir lagi ucapan itu (sambil tetap saja mengerjakan survey), betul juga. Itu pertama. Kedua, apakah tujuan survey itu sendiri? Ingin mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan seorang karyawan? Lalu, manakah yang baik, karyawan yang puas atau karyawan yang tidak pernah puas? Bukankah karyawan yang tidak pernah puas, itu justru baik bila perusahaan ingin berkembang?

Bila melihat Key Performance Indicator (KPI) atasan, tentu saja seorang pemilik perusahaan, direksi, komisaris, atau even seorang manajer di unit kerjanya, menginginkan tingkat kepuasan kerja yang tinggi, karena bila saat diukur, tingkat kepuasan kerja tinggi, maka KPInya tinggi. Lebih dari itu, kepuasan kerja yang tinggi dari seorang karyawan dianggap sebagai “pencapaian” (untuk tidak menyebutnya “tujuan akhir”) dari seorang atasan atau owner, karena itu berarti dia dapat memberikan kepuasan bagi bawahan atau karyawannya. Selain itu, banyak juga penelitian yang menunjukkan bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan tingkat produktivitas, turn over rendah, tingkat absensi rendah, dan sebagainya, sehingga membuat orang percaya dan berlomba-lomba menginginkan indeks kepuasan kerja yang tinggi.

Disisi lain, dengan antitesis bahwa kepuasan kerja yang tinggi akan membuat sang atasan atau owner berada di zona nyamannya, merasa comfort dengan keadaannya karena merasa bahwa karyawan-karyawannya puas, justru membuat suatu perusahaan terkadang melupakan arti kemajuan dan gebrakan.

Selain itu, kadang kita melupakan arti sebuah survey. Bagi sebagian orang, suatu survey adalah kegiatan pencarian pendapat, penghargaan atas suara dan opini mereka. Pernyataan saya ini memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada penghargaan, disisi lain, ada suatu harapan yang secara tidak kasat mata muncul ketika kita melakukan kegiatan ini. Itu sebabnya, kegiatan survey (apalagi survey kepuasan, entah kepuasan kerja, kepuasan pelanggan, dll), lebih merupakan ajang curhat. Hal ini tentu saja baik, dan saya termasuk salah satu orang yang mendukung kegiatan-kegiatan pencarian opini dari akar rumput. Namun disisi lain, bila tidak berkelanjutan atau tidak ada improvement yang berarti setelah kegiatan survey, bisa jadi orang-orang seperti ini berhenti berharap, sehingga muncul perilaku-perilaku negatif, mulai dari withdrawal, avoiding, hingga antipati terhadap survey sejenis.

Kembali ke permasalahan “puas tidak puas” dan “orang itu tidak akan pernah puas”, dan kepuasan adalah suatu konstruk yang sifatnya sangat subjektif dan situasional. Sampai sekarang, meskipun saya mencoba membuat suatu alat ukur yang sedemikian, dengan berkiblat pada beberapa teori (seperti Hezberg atau ERG atau Maslow, atau mengadopt beberapa isi MSQ-Minnesotta Satisfaction Questionnaire), tetap saja sulit untuk membuat seseorang menilai secara objektif dan keseluruhan, karena bagaimanapun, kepuasan adalah sesuatu yang sangat personal, sulit dijabarkan dengan kata-kata.

Namun demikian, kegiatan survey bukanlah hal yang buruk selama kita mengetahui pasti tujuan-tujuan kita, adanya improvement commitment, hingga kegiatan survey hendaknya dilaksanakan secara berkelanjutan dan rutin adanya. Sangatlah mungkin untuk mengkombinasikan survey kepuasan kerja dengan kegiatan lain (yang masih saya pikirkan format dan isinya), sehingga potret karyawan secara keseluruhan dapat terbaca. Hmm, ada yang ingin memberi pendapat?

Saturday, Dec 26th 2009, 17.30 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s