PERUSAHAAN KELUARGA MENUJU PROFESIONALISME

Bekerja di sebuah perusahaan keluarga yang sedang berekspansi merupakan pengalaman tersendiri yang unik sekaligus menantang bagi saya. Bagaimana tidak, perusahaan yang selama ini dikelola sendiri oleh keluarga (apalagi keluarga inti), dan selama dikelola sendiri, mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga dapat melangkah menuju perusahaan skala menengah, seringkali mengalami kebimbangan. Kebimbangan macam apa? Tentu saja kebimbangan untuk meninggalkan zona nyamannya, menuju pengelolaan perusahaan yang lebih profesional, melibatkan orang-orang di luar keluarga untuk mengolah perusahaan, dengan hasil yang masih dipertanyakan apakah bisa lebih baik dari saat dikelola sendiri.

Begitulah yang saya alami ketika masuk sebagai HR specialist di saat perusahaan sedang melakukan ekspansi, membuka beberapa cabang baru, dan merekrut tenaga-tenaga profesional untuk menjalankan roda bisnis. Titik balik perusahaan ini ketika sang owner mengangkat seorang profesional sebagai General Manager a.k.a perpanjangan tangannya. Kala itu, sang owner dan GM duduk bersama di hadapan karyawan dan berjabat tangan, seraya owner berseru bahwa mulai saat itu, beliau tidak lagi secara langsung mengendalikan perusahaan, dan akan lebih fokus pada pengembangan bisnisnya.

Saat itu, pengelolaan bisnis mulai diarahkan secara profesional, sebagai satu-satunya HR disana, saya berusaha menyusun pondasi sistem SDM satu demi satu. Langkah pertama adalah membuat suatu peraturan ketenagakerjaan, mulai dari aturan-aturan yang sifatnya administratif hingga perencanaan karir, sistem remunerasi untuk memotivasi karyawan, perancangan sistem pelatihan, hingga pembuatan kontrak kerja.

Namun demikian, apakah hal terpenting dalam perubahan dari perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang lebih profesional ini? Tidak lain adalah harus adanya keinginan yang kuat dari owner untuk mempercayai orang lain, seraya keluar dari zona nyamannya, menjadi seorang yang realistic-risk taker, sehingga tidak (malah) menjadi batu sandungan bagi pengelolaan perusahaan. Kedengarannya negatif, tapi percaya atau tidak, itulah permasalahan yang paling sering dialami oleh perusahaan keluarga yang ingin berekspansi dan merekrut tenaga profesional dari luar keluarga. Iklim ketidakpercayaan ini tidak hanya berpengaruh pada kebijakan-kebijakan bisnis, namun juga berdampak pada kebingungan karyawan. Akibatnya karyawan merasa sulit bertindak, bekerja setengah hati, hingga memikirkan untuk pindah ke perusahaan lain yang lebih kondusif. Inilah yang saya alami saat berada di dalam perusahaan yang baru saja mulai profesional. Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa perusahaan tempat saya bekerja jelek, karena saya percaya, hal tersebut memang sebuah proses yang harus dilewati oleh siapapun yang ingin keluar dari garis zona nyamannya. Sikap owner yang terkadang masih sulit untuk mempercayai kebijakan-kebijakan yang diambil GM, sehingga masih harus turun langsung ke lapangan, adalah sikap setengah-setengah. Setengah percaya, setengah tidak. Bagi saya ini hal yang sangat wajar, mengingat, usaha ini sudah dilakoni owner selama bertahun-tahun dan beliau tidak ingin apa yang selama ini diraihnya hilang begitu saja. Sedangkan sang GM, merupakan tokoh yang strategik, yang semestinya diberi peluang memutuskan, sangat sulit membuat kebijakannya sendiri sesuai dengan pengalaman dan ilmu yang dimilikinya.

Demikianlah, hingga saya merasa agak sulit untuk berkembang, terlebih ada kecenderungan GM sulit untuk mendengungkan powernya, beberapa bulan setelah GM masuk, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu, lebih karena rasa putus asa saya karena sulit untuk menerima kenyataan bahwa perusahaan belum siap untuk melangkah ke arah profesionalisme. Selain itu, saat itu saya sedang berada pada pilihan yang lebih baik dibanding perusahaan tersebut J.

Saya membagi pengalaman ini karena saya melihat banyak perusahaan-perusahaan skala kecil yang dikelola oleh keluarga yang mulai akan melangkah menuju profesionalitas dan masuk ke skala menengah. Saya berharap tulisan saya bisa menjadi salah satu pengalaman yang bisa dipetik hikmahnya, bahwa perubahan ke arah sana bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, dengan syarat, kita harus mampu mengalahkan ego kita untuk bisa berekspansi dan membesarkan bisnis kita, dengan bantuan orang lain yang mumpuni.

2 thoughts on “PERUSAHAAN KELUARGA MENUJU PROFESIONALISME

  1. Bos yang anda bilang benar namun terkadang sang pemilik perusahaan tentunya perlu mempelajari apakah benar program GM yang baru saja dihunjuk untuk melanjutkan visi dan misi perusahaan karena banyak juga org yang begitu diberikan satu tanggung jawab maka kesempatan itu terus dimanfaatkan untuk mencari kesempatan memperkaya diri sendiri tanpa memikirkan bagaimana kelangsungan perusahaan kedepan benar pendapat sdr bahwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s