Dia…

Hingga aku temukan serenade yang indah,

tapi ia masih juga tak ikut mendengarkannya,

Mungkin ia tak hirau,

atau barangkali aku yang salah berpikir,

Namun kusangka aliran nada itu indah,

ia tak mungkin berbohong mengenai kebeningan,

Masih juga kami berkelit di sudut ruangan,

aku bersemedi, menggelegak mencari kenikmatan sendiri,

Namun ia tak jua tampak,

ia menertawakan yang kusedihkan,

dan aku memunguti kebahagiaannya untuk dikumpulkan,

betapa pahit sebuah hubungan,

Arif mungkin perlu kuurai maknanya,

Karena ku berhenti menyapa angin,

Telanjurkah aku terdiam,

hingga aku tidak mengerti arti kata “pengecut” dan “menentang arus”

gundah juga aku,

Mungkin ia sudah lari,

tapi aku tak peduli.

[hujan kali ini membuat lubang-lubang besar di tanah yang basah]

ia tak sanggup berkata-kata kali ini,

mengenai gundahku yang telanjur mengeras.

-tentang kekecewaan dan perih-

6 thoughts on “Dia…

  1. mbak ko kamu cakep bgt si.ni gw heris di jogja.beneran kamu cakep tp sayang bukan tipeku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s