Mengapa Penanganan Pasien Sakit Mental Tidak Tepat?

stress Tadi pagi saya sempat melihat sebuah berita yang cukup miris. Seorang laki-laki dikerangkeng oleh keluarganya (dengan ukuran kerangkeng hanya 1 meter x seukuran lebar badannya) karena dia mengamuk dan membuat kericuhan di lingkungannya. Sudah satu tahun si lelaki yang masih terbilang muda itu terkurung di kerangkeng. Kini kondisinya semakin memprihatinkan karena kedua kakinya mengalami kelumpuhan karena tidak pernah digunakan selama 1 tahun dikerangkeng.

Saya juga pernah melihat berita-berita sejenis sebelumnya, bertemakan penanganan orang yang dianggap “gila” atau “sakit jiwa”. Di tengah modernisasi penanganan kesehatan, ternyata masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang menangani penyakit mental dengan cara-cara yang “tradisional” bahkan semakin memperparah kondisi si pasien.

Contoh di atas menunjukkan bahwa bukannya sembuh, pasien malah semakin terkungkung, kebutuhan sosialnya kian terbatasi (atas nama kedamaian lingkungan, karena takut kambuh dsb), mentalnya sebagai manusia juga terlukai karena merasa terpinggirkan, tidak dianggap ada.

Banyak alasan yang dikemukakan pihak keluarga. Pertama, faktor ekonomi. Karena ketiadaan biaya, banyak orang yang pasrah dengan tidak menggunakan jalan medis untuk mengobati si pasien.

Kedua, kurangnya informasi mengenai penanganan yang tepat bagi penderita sakit mental. Akibatnya, keluarga dipengaruhi oleh cara-cara tradisionil yang dianggap efektif untuk menyembuhkan pasien. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan metode pengobatan, seperti faktor budaya / kultur (lihat pengobatan Ponari yang begitu fenomenal dan menular sehingga memunculkan Ponari-Ponari yang lain),  kurangnya saluran informasi mengenai penyakit tersebut sehingga dikait-kaitkan dengan mistis sehingga penyembuhannya juga harus memerlukan penanganan secara mistikal, dsb.

Ketiga, masih adanya stigma negatif mengenai pasien sakit mental. Pasien sakit mental tidak diperlakukan sejajar dengan pasien sakit fisik, dalam arti, seseorang yang mengidap penyakit jantung atau liver bisa dijenguk, diberi perhatian, dan sebagainya. Sedangkan pasien sakit mental adalah orang yang perlu disembunyikan dan tidak perlu tetangga tahu – karena berakibat malu, dipandang aneh karena punya anggota keluarga yang sakit jiwa, dsb. Padahal, di negara lain, pergi ke psikolog atau psikiater adalah sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan, seperti laiknya orang medical check up setiap tahunnya. Bahkan, di negara-negara tertentu, seseorang sudah memiliki psikolog atau psikiater pribadi (keluarga), seperti halnya dokter keluarga.

Keempat, berhubungan dengan poin 2 dan 3, minimnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jiwajumlah psikiatri di sebagian besar negara berkembang hanya sekitar 0-1 per 100 ribu penduduk dan belum tersebar merata. Dari jumlah itu, sekitar 65,1 persen psikiatri melakukan praktik di rumah sakit jiwa, 15,9 persennya berpraktik di rumah sakit umum dan 19,0 persennya berpraktik di tempat-tempat praktik khusus.” (http://www.gizi.net)

Selain hal-hal di atas, tentu saja banyak hal lain yang menjadi alasan penanganan yang tidak tepat terhadap pasien sakit mental.  Saya tidak akan membeberkan bagaimana penanganan pasien secara tepat, karena saya bukanlah psikolog klinis apalagi psikiater🙂 Semoga saja kasus-kasus seperti ini tidak berkelanjutan dan pasien mendapatkan penanganan dengan semestinya.

3 thoughts on “Mengapa Penanganan Pasien Sakit Mental Tidak Tepat?

  1. bener penaganan yang kurang sosialisasi serta pola pikir masyarakat terhadap pasein penyakit jiwa terlalu berlebihan………ternyata penyakit jiwa itu seperti virus flu ngak ada obatnya tapi hanya bisa disembuhkan dengan daya tahan tubuh kita, begitu juga dengan penyakit jiwa daya tahan mental kita harus ditambah biar bisa menahan virus sakit jiwa…….penyakit jiwa sama halnya dengan penyakit lainya ternyata keterbayasan informasi dan pengetahuan lah yg memperparah penyakit jiwa itu…..ex…flu…jgn makan es….jgn hujan2an….jgn main air…jjgn dkt yag lag sakit flu nanti ketularan begitu juga halnya dengan penyakit jiwa….hanya istilah dan penaganan yang harus dipelajari lebih seksama…….

  2. Salam kenal.
    Artikelnya bagus. Beberapa saya gunakan sebagai referensi. Makasih karena sudah memberikan masukan yang cukup berharga. Harapan saya pun penanganan kasus2 sakit jiwa ini memperoleh perhatian khusus dari mereka yang memang diberikan kelebihan untuk melakukannya. Tidak hanya membiarkan seperti yang selama ini kita lihat.

  3. @mie : betul, kata-kata “lbh baik mencegah daripada mengobati” juga bisa diterapkan kepada orang yang sedang mengalami penyakit mental, salah satunya spt yang dikatakan mie, membentengi diri dengan daya tahan mental yang baik, jauh lebih efektif🙂 trims udah mampir🙂

    @care & healed : salam kenal juga, hehehee…saya cuma mengomentari berita di tivi kok🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s