Nanggroe dalam dua halaman

Tentu masih saja segar dalam ingatan kita apa yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 yang lalu. Sebuah bencana nasional yang menghantam ujung Sumatera, telah menewaskan lebih dari 250 ribu orang masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Tsunami.Getaran gempa dengan 8,9 skala ritcher tidak hanya menyebabkan rusaknya sarana prasarana di wilayah itu, tapi juga sekaligus ‘membersihkan’ seluruh kota dengan air laut

Pikiran pertama yang melintas di dalam pikiran saya adalah sebuah organisasi besar bernama Red Cross, yang kita kenal bersama di Indonesia dengan Palang Merah Indonesia atau PMI. Dan benar saja, ratusan relawan PMI bergerak cepat ke daerah itu dan membantu masyarakat membangun kembali Aceh dan Sumatera Utara yang porak poranda akibat tsunami.

Segitu hebatnya ya PMI ?

Sebagai seorang anggota PMI, dengan bangga ( dan sedikit subjektif ), saya berani bilang : Iya. PMI memang hebat.

Sebagai organisasi yang mengedepankan tujuh prinsip Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yang memiliki cabang di seluruh Indonesia, PMI telah menancapkan kukunya sebagai organisasi kemanusiaan terbesar di Indonesia. Di mana pun bencana, organisasi PMI bergerak di garda terdepan dalam usaha-usaha penanggulangan bencana.

Hebat kan ?

Setidaknya itu yang saya tangkap dari peristiwa tsunami itu. Relawan-relawan PMI dengan sekuat tenaga membantu para korban bencana yang sangat besar itu, dengan mengorbankan waktu, pikiran, dan kebutuhan-kebutuhan personalnya untuk menolong orang yang tidak pernah dikenalnya. Kedengarannya sepele dan simpel sekali. Namun tidak semudah itu, karena betapa sulitnya mengorbankan hal-hal yang sifatnya pribadi untuk melakukan sesuatu kepada orang lain. Egoisme kita benar-benar diuji di lapangan. Dan tidak semua orang bisa melakukannya. Maka dari itu, banggalah teman-teman saya yang punya keberanian untuk memilih menolong dan memperhatikan orang lain daripada dirinya sendiri.

Tidaklah heran, sebagai salah satu orang Indonesia ( yang selama ini masih saja menyusahkan negaranya ) saya tergerak untuk ikut serta dalam kegiatan gotong royong besar-besaran itu. Saya kemudian bergabung dengan tim dukungan psikologis, mengingat latar belakang pendidikan saya ( yang sampai sekarang ) adalah mahasiswa psikologi.

Pertama kali, izinkanlah saya untuk menceritakan bagaimana rasa rendah diri yang saya alami pada saat bergabung pertama kali dengan tim dukungan psikologis yang akan diberangkatkan ke Aceh pada bulan Februari 2005 yang lalu. Bagaimana tidak rendah diri, saya ditugaskan di Meulaboh bersama seorang dokter yang akan segera menjadi psikiater, sementara saya masih berijazah SMU dan masih berjuang mati-matian keluar dari kampus psikologi.

Rasa rendah diri itu agak surut setelah saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya, anggota PMI Jabar, Sumatra Utara, dan Riau yang pada saat itu ada di Meulaboh. Penghargaan mereka kepada saya sebagai seorang amatiran psikologi mampu menumbuhkan rasa percaya diri saya. Mereka menceritakan keluhan-keluhan mereka, yang sebagian besar memang masalah pribadi, secara terbuka dan jujur, karena mereka menyangka saya sudah bertitel ibu psikolog padahal…. Rasa kekeluargaan dan penghargaan itulah yang membentuk diri saya untuk benar-benar berusaha meringankan masalah mereka, dengan mendengarkan, memberi semangat, dan sedikit-sedikit juga memberikan solusi (yang menurut mereka cukup membantu). Tapi memang sebagian besar di antara mereka hanya butuh didengarkan. Dan itu yang menjadikan jam tidur saya rata-rata hanya 3-4 jam per hari. Saya tidur sekitar pukul 2 pagi dan bangun pukul 5 pagi. Pekerjaan para relawan selama kurang lebih 12 jam, membuat mereka hanya mempunyai waktu di atas pukul 10 atau 11 malam untuk mengobrol dan melepaskan kepenatan. Dan pada saat itulah saya mengajak mereka mengobrol, dan sebaliknya. Walhasil, setiap pagi saya harus nongkrong di kedai di depan posko PMI hanya untuk mendapatkan segelas kopi sebagai pengganjal mata saya untuk hari itu.

Namun demikian, tim dukungan psikologis juga dibentuk untuk tidak hanya bertugas untuk mendampingi para relawan PMI yang bekerja di daerah bencana, namun juga untuk membantu pemulihan keadaan psikologis korban bencana. Memang saya akui, dalam tanggung jawab kedua ini, usaha yang saya lakukan sangat jauh dari yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor teknis, seperti tidak ada perencanaan yang matang (sebelum diterjunkan) mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan di lapangan, sehingga tim dukungan psikologis tidak memiliki target pencapaian atau pun sasaran tempat maupun orang.

Dengan keadaan harus berpindah setiap hari ke lokasi yang berbeda, saya berusaha mendatangi tenda-tenda penduduk, dan mengajak mereka mengobrol. Memang bukanlah usaha yang strategis dan dapat secara langsung mengurangi penderitaan dan trauma mereka, akan tetapi yang saya tekankan dalam kegiatan ini hanyalah untuk menegaskan pada mereka bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana tersebut. Meskipun waktunya tidak terlalu panjang, namun saya mengerti bahwa hal tersebut merupakan satu-satunya jalan untuk tetap menunaikan tanggung jawab saya sebagai anggota dari tim dukungan psikologis pada khususnya, dan anggota PMI pada umumnya.

Demikianlah sedikit gambaran kegiatan yang saya lakukan pada saat saya bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam. Saya berharap, di masa mendatang, tim dukungan psikologis mendapat tempat yang sama krusialnya dengan tim-tim lain, dan pergi ke daerah bencana bukan hanya untuk mencari teman dan pengalaman, namun lebih dari itu. Rasa tanggung jawab dan keinginan untuk membantu korban bencana adalah prioritas utama. Pengobatan psikologis, saya harapkan, akan sama penting dan sama diperhatikan dan dikembangkannya, seperti pengobatan dan pemulihan yang sifatnya fisik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s