Pagi tadi aku sengaja tidak membuka Sudoku-ku yang selalu terselip di dalam tas putihku yang sudah mau minta dicuci. Aku berusaha menghilangkan kebosanan pagi itu tanpa bermain-main dengan lingkaran nomor. Karena pagi tadi tidak terlalu terik, aku senang. Memperhatikan orang-orang yang berkejaran dengan waktu demi ampunan kepada kehidupan. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku pagi itu. Sekelompok besar pekerja sedang berdiri-diri di tengah jalan, bukan karena mereka berdemonstrasi (mungkin saat ini mereka sudah tidak sanggup lagi berdemonstrasi karena..PERCUMA men… semua juga sudah tau itu..) tapi mereka sedang mengerjakan proyek busway. Itu loh, program pemerintah Jakarta untuk (katanya sih) mengurangi laju kemacetan di jalan. Mereka sedang sibuk meninggikan jalan sepanjang Ragunan hingga Kuningan sebagai jalur bis besar, transportasi modern a la orang Jakarte.

 

Wah, aku jadi berpikir agak berharap dikitlah. Gimana kalau di kota asalku, Palembang, ada proyek busway. Kemacetan di Palembang memang masih kalah jauh dengan Jakarta, tapi ada gejala yang menunjukkan ke arah sana. Nah, begitulah pemerintah kita, tidak pernah mencegah. Hanya bisa mengatasi. Padahal ibu kesehatan berkoar-koar buat bilang : Mencegah lebih baik dari mengobati. Sekarang kan, jadi yang kena dampaknya, orang-orang pengguna jalan yang tidak punya alternatif lain untuk berangkat ke kantor selain jalan yang udah dipotong separoh itu. Wuff…

 

Balik lagi ke Palembang, aku mendukung banget kalau pemerintah di kota-kota besar mulai memperhatikan masalah kemacetan. Karena, kalau aku melihat dari sudut pandangku, psikologi, kemacetan sangat berpengaruh terhadap kejiwaan seseorang. Orang bisa stress fisik dan psikologis. Kemungkinan lain : Orang bisa apatis dengan kondisi orang lain. Misalnya gini : Lu lagi asyik-asyiknya merhatiin kendaraan di depan, biar gak ada yang menyalip, ternyata di sebelahmu ada motor yang menyerempet mobilmu dan mobilmu kegores. Dengan santainya si pengemudi motor bilang : Yah, pak, namanya juga lagi macet. Hem…menyalahkan kemacetan sekaligus membuat orang tidak empati dengan orang lain. Pak Presiden tercinta,,, mau masyarakatnya semakin menjadi kegilaan psikologisnya????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s