Deadwood / Iceberg, bagaimana menyiasatinya?

Pagi ini saya ingin menulis mengenai bagaimana cara menentukan kesesuaian seseorang di jabatan tertentu, tapi hal itu tiba-tiba buyar, malah terpikir untuk menulis mengenai “deadwood” atau “iceberg” employee. Entah mengapa ketika saya melihat gedung tempat saya bekerja, ada suatu tempat di hati saya yang sedih ketika ada orang-orang yang tidak mau dan/atau tidak mampu memberikan kontribusinya secara maksimal kepada perusahaan yang telah memberinya banyak penghidupan dan kesejahteraan.

Kita akan mulai dari cerita, apa itu deadwood atau iceberg employee.


Sumber : pinterest

Di dalam ilmu manajemen SDM, kita tentu sudah familiar dengan gambar di atas. Ya, itu adalah people matrix, atau talent matrix, yang merupakan tools Perusahaan dalam mengelola human capital di perusahaan. 

People matrix mengkombinasikan antara Potency dengan Performance. 

Performance adalah gambaran mengenai kinerja aktual seorang karyawan, yang terlihat dari cara kerja dan output kerjanya sehari-hari. Sedangkan Potency adalah suatu gambaran mengenai apa yang mungkin bisa dicapai seseorang di masa mendatang, artinya nilai Potency dapat memprediksi tingkat keberhasilannya nanti (bukan saat ini). Dari kombinasi keduanya, diperoleh sembilan posisi karyawan dengan kriteria low-medium-high. Namun Saya akan membahas mengenai people matrix di topik lain ya. Karena saya akan lebih banyak cerita mengenai deadwood/iceberg. 

Kembali ke bahasan sekarang, bahwa ketika dipetakan, ada karyawan-karyawan yang berada pada kotak “low potency” dan “low performance”. Inilah karyawan-karyawan yang diberi nama Deadwood atau iceberg.

Sebagaimana yang disebutkan oleh kotak tsb, bahwa orang-orang ini adalah karyawan yang secara kinerja tidak mampu mencapai target-target yang diinginkan kepadanya. Demikian pula dari sisi potensi, ia tidak memiliki potensi untuk dikembangkan oleh perusahaan.

Apa penyebab seorang karyawan berada di kotak ini?

 

Ada banyak hal yang membuat seseorang masuk dalam kategori deadwood atau iceberg. 

Seorang karyawan pada awal masa bergabungnya dengan perusahaan tentu memiliki semangat yang tinggi dalam bekerja. Jika tidak high, paling tidak perusahaan akan merekrut karyawan yang memiliki minimal medium potency.

Apa yang melemahkan seseorang, tentu kita tidak bisa melihat dari satu aspek saja. Pelemahan kinerja bisa berasal dari lebih 1 aspek. Aspek lingkungan kerja, faktor atasan, manajemen Perusahaan, keluarga/aspek di luar perusahaan, dan lainnya. Namun demikian, berbagai teori mengatakan bahwa hal yang paling banyak mempengaruhi motivasi seseorang dalam bekerja adalah faktor “atasan” atau lebih umumnya lagi adalah ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan Manajemen (yang dalam hal ini dicerminkan oleh first-line managerial position).
Pengaruh pelemahan ini terjadi dengan panah bolak balik. Misalnya kasusnya seperti ini. 

Karyawan bekerja dengan giat, ketemu atasan yang cuek, tidak memberikan feedback yang memadai (kuantitas) dan memuaskan (kualitas) baginya. Akibatnya karyawan tidak mengetahui apakah hasil pekerjaannya telah memenuhi harapan, tidak ada yang mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkannya untuk berkembang, dan yang lainnya. Biasanya hal ini tidak terjadi 1-2 bulan, tapi dalam jangka waktu yang relatif lama. Akibatnya ada penurunan motivasi. Atasan melihat karyawan tidak termotivasi, kurang inisiatif, akhirnya mengalihkan pekerjaan kepada orang lain, atau orang yang lebih muda, atau karyawan kontrak, sehingga lebih menurunkan motivasinya. Kompetensi kerja pun menjadi tak terasah.
Itu kasus ekstrim.
Ada juga kasus lain yang biasa ditemui. Kerja biasa-biasa saja. Tapi atasan menganggap potensinya rendah, tidak diberikan pekerjaan yang menantang. Komunikasi terhambat. Akhirnya orang yang awalnya performancenya tinggi (meskipun potency rendah) mengalami penurunan kinerja. Hal ini bukan hanya terjadi pada karyawan yang berpotensi rendah lho. Karyawan yang potensinya medium bahkan tinggi, bila salah penanganan dari Manajemen, bisa-bisa turun potensinya. Potensi bukan hal yang dibawa sejak lahir saja, tapi merupakan hal yang terus meneruh diasah dan dikembangkan dalam sepanjang karir seseorang.

Jadi, bagaimana cara perusahaan menyiasati karyawan yang teridentifikasi sebagai deadwood?

Ada beberapa trik praktis yang bisa dilakukan. 
Pertama, be positive as a leader atau sebagai perwakilan dari Manajemen (bila kita berada di Divisi HR).

Be positive pasti tidak segampang yang ditulis. Be positive artinya, percaya bahwa manusia dianugerahkan kekuatan/strength atau sifat-sifat baik, seberapa sedikitnya pun itu. 

Selanjutnya, dari para iceberg ini, identifikasi kembali secara detil, sehingga diperoleh sub-mapping para iceberg berdasarkan masa kerja, usia, atau faktor-faktor lain. Dengan sub-mapping ini, kita masih bisa memilah-milah mana iceberg yang masih bisa berkembang di kemudian hari di Perusahaan. Iceberg yang memiliki masa kerja yang masih panjang di Perusahaan, dapat dikonseling oleh pihak HR atau profesional yang dihire untuk menumbuhkan motivasinya. Cek kesesuaiannya dengan unit kerjanya saat ini. Perhatikan latar belakang keluarganya. Selanjutnya, pertimbangkan untuk dirotasi ke unit lain.
Iceberg yang masa kerjanya tidak lama lagi (kurang dari 3 tahun), bisa diberi opsi misalnya ditaruh ke struktur organisasi khusus, atau jabatan tertentu dengan pengawasan ganda (dari atasan yang memiliki sense developing yang tinggi, dan dari pihak HR). Beri target dengan tingkat risiko rendah untuknya/mereka.

Opsi lain, mau tidak mau, golden-shake hand bila kebijakan Perusahaan bisa mengcovernya.
Satu hal, iceberg/deadwood juga manusia 😊 itu yang pertama harus ada di benak kita ya πŸ˜‰

Office Politics

Tak terasa 3 tahun berlalu dari keseharian melakukan hal yang sebelumnya menjadi minat saya. Betapa tidak, tiga tahun terakhir merupakan masa-masa di mana urusan kantor dan rumah datang silih berganti tanpa bisa membuat saya sedikit bernafas dan menghirup udara segar. What I mean is, fresh, really really fresh.

 

Bahkan saat ini juga pun, udara itu tidak juga datang tapi saya paksakan untuk menghirupnya dalam-dalam (Halah!) πŸ™‚  Dan…taraaaa… postingan setelah rehat bertahun-tahun malah berkisah tentang Office Politics.

 

Kenapa harus bertema ini? Did I ever been insulted by office politics? Sure…! Kalau tidak, kenapa saya harus menulis ini. Did it happen at these 1-2 past weeks? No.. Saya sudah mengalami office politics sejak sepuluh tahun yang lalu, di tahun 2006 saat saya masih bergabung dengan suatu perusahaan. 
Saat itu saya masih ingat, kala dengan semangat tinggi dan idealisme yang luar biasa untuk mencapai target, saya dihantam oleh sebuah email dari Seseorang yang berasal dari bagian lain di tempat saya bekerja, yang menyatakan bahwa saya harus bekerja lebih giat lagi karena target-target tidak tercapai. And he’s CC that email to our big boss! C’mon! He’s not even my boss, ngapain juga dia negur-negur saya. Lewat email pula, dan tembusin ke big boss. Kenapa ga ngomong langsung aja, toh kursi dia dan saya ga sampe 5 meter jauhnya.
Setelah email itu, dia tetap dengan muka “manis” nya menegur saya sambil sesekali melontarkan sindiran jika kami berhadapan dan disana ada big boss kami. And, for sure, I was fired few months after that (walaupun dibilang, karena habis kontrak karena masih PKWT 1 tahun). Dan saya diinformasikan di hari terakhir kontrak saya. Sore. Menjelang pulang.

Demikian pula ketika saya bekerja di salah satu perusahaan. Saat itu, saya tidak tahu bahwa ada seseorang bermuka dua yang mengaku dan berperilaku sebagai teman (untuk seorang newcomer di perusahaan tersebut, yaitu saya), dan saya bercerita sedikit rahasia saya (yaitu saya mendaftar di perusahaan lain) dan ternyata hal tsb disampaikan kepada owner. Alhasil, tanpa menunggu waktu lama, sang owner “menyelesaikan” saya πŸ˜ͺ

Sumber : workitdaily.com

Dan bertahun-tahun kemudian, saya baru tahu, di dunia kerja, ada yang namanya Office Politics. Dan itu jahhhat Rangga (hahahaaaa) πŸ˜…πŸ˜…

Yes, kalau kita melihat definisi office politics seperti pada officepolitics.com, Definisinya kurang lebih seperti ini :

β€œOffice politics” are the strategies people use to gain advantage for themselves or to support a cause. The term’s negative connotation derives from the fact that sometimes people seek advantage at the expense of others or the greater good.

So office politics, meskipun ada yang bagus, tetapi lebih banyak dikonotasikan sebagai hal yang negatif. 

Saya pernah membaca di salah satu quotes, 

“Menjelekkan orang lain tidak berarti membuatmu bisa tampak bagus.”

Namun demikian, tidak dipungkiri, meskipun dikonotasikan negatif, ada juga karyawan yang secara sadar maupun tidak sadar, melakukan office politics. 
 

Saya tidak akan berbagi pengalaman bagaimana mengatasi masalah office politics, karena cuma 1 jalan keluar yang saya tahu, yaitu keluar dari perusahaan itu, yang itu solusi ekstrim dan tak patut dicontoh (kecuali masalahnya sangat sangat sangat memalukan). 😬
Cuma yang saya tahu dan saya pengen cerita bahwa, office politics selalu ada, entah dalam keadaan yang sangat smooth sehingga kita tidak menyadarinya, entah dalam kondisi yang ekstrim seperti cerita saya di atas. Memang office politics tidak harus disembuhkan, karena tidak ada obatnya πŸ˜… kadang ia berlalu begitu saja dan kita maupun orang-orang yang ada di sekitar kita cepat atau lambat akan melupakannya, dan mungkin hanya dianggap sebagai kenangan (dan pelajaran yang berharga, seperti yang saya alami). 

Selamat bekerja semua! Kalau kena jebakan office politics, sabar aja, semua pasti berlalu. Percayalah πŸ˜ƒ

 

 

 

Blog Bisnis ku : perlengkapananakpalembang.blogspot.com

Sekian lama berkutat dengan dunia HR, membuat saya sedikit jenuh dengan rutinitas. Eh iseng-iseng saya coba-coba berbisnis, via facebook dulu, ternyata seru πŸ™‚

Β 

Saya sekarang sedang coba membangun blog. Namanya : http://www.perlengkapananakpalembang.blogspot.com

Silakan mampir ya jika teman-teman membutuhkan perlengkapan untuk anak, eh untuk ibunya juga ada loh.

Β 

Barang yang saya jual antara lain :

1. Baju anak murah berkualitas (untuk sekarang, baru ada dari usia 1-2 tahun)

2. Baju bayi (jumper), untuk baby usia kurang dari 1 tahun

3. Peralatan keselamatan anak, antara lain pengaman knob kompor, pengaman sudut meja, pengganjal pintu dll

4. Beragam jenis organizer, yang bisa dipakai untuk travelling, dinas kantor, atau dipakai di rumah.

Harga murah bersaing… namanya aja baru belajar bisnis, dan masih berstatus karyawan, jadi ya, actually masih dalam tahap “ISENG” πŸ™‚

Β 

Ini tampilan blog saya

Image

Β 

Jangan lupa mampir ya πŸ™‚

Apa saja yang dipelajari di jurusan Psikologi – bagian 2

Seperti yang pernah saya ceritakan pada bagian 1, kita lanjut ya cerita-cerita tentang apa saja sih yang dipelajari di jurusan psikologi?

Β 

Selanjutnya, kita cerita-cerita tentang mata kuliah psikodiagnostik yuks. Pada saat saya kuliah, ada beberapa mata kuliah tentang psikodiagnostik, yaitu :

Β 

1. Psikodiagnostik 1 : Administrasi Skoring Baterei & Tes

Berisi tentang bagaimana cara melakukan administrasi tes, standar instruksi, melakukan skoring, standar pelaksanaan tes, dll.

Β 

2. Psikodiagnostik 2 : Tes Inteligentasi

Berisi tentang teori-teori inteligensi, lengkap dengan alat tes yang biasa digunakan. Waktu itu kami tes nya ke anak-anak. Seru loh, karena kalau tes bakat untuk anak, prosesnya lebih fun, tidak hanya menulis (seperti biasa masuk kerja), tapi juga menyusun balok, mengingat, dll.

Β 

3. Psikodiagnostik 3 : Tes Bakat

Berisi tentang teori-teori Bakat, lengkap dengan penjelasan bagaimana cara mengadministrasi & skoring tes bakat. Waktu itu kami melakukan tes kepada remaja usia 18 tahun, yang baru akan masuk kuliah. Ya jadinya kerjasama yang saling menguntungkan, karena ybs juga ingin tahu jurusan yang ingin dipilihnya, kita juga jadi ada bahan kuliah πŸ™‚

Β 

4. Psikodiagnostik 4 : Tes Grafis

Kalau saudara-saudara pernah dengar tentang Tes Menggambar Manusia, Tes Menggambar Pohon, Tes Menggambar 8 kotak (Wartegg), disini belajar tentang itu semua.

Β 

5. Psikodiagnostik 5 : Tes Pauli, Kraeplin, dan Inventory

Berisi tentang seluruh hal tentang tes kemampuan kerja, mulai dari administrasi, skoring, dlsb. Tes Pauli atau Kraeplin biasanya mengukur tentang kemampuan seseorang melakukan sesuatu di bawah tekanan, dengan batas waktu yang ditentukan, semangat kerja, hingga toleransi stres. Bisa dipakai untuk dunia kerja maupun klinis. Sedangkan inventory adalah pengenalan alat-alat tes minat dan kepribadian. Secara alat tes minat dan kepribadian jumlahnya buanyakk, jadi sewaktu kuliah, memang ada beberapa yang sedikit didalami, seperti EPPS, Papi kostick, dan 16PF (sekarang dikenal dengan 15PF),ada juga tes minat (saya lupa apa namanya, kalau gak salah Kuder), sisanya hanya perkenalan saja.

Β 

6. Psikodiagnostik 6 : Tes Rorschach

Ini kalau bisa dibilang, salah satu tes favorit saya hehehee…

Β https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/ea/Rorschach_inkblots.jpg/250px-Rorschach_inkblots.jpg

Sumber : Wikipedia

Tes Rorschach masuk dalam kelompok tes proyektif. Tes proyektif adalah tes dimana si testee (orang yang dites) tidak tahu arah interpretasi tes. Berkebalikan dengan tes non-proyektif, dimana si testee sudah tahu perkiraan apa yang akan digali. Contoh tes non-proyektif adalah tes kemampuan (tes inteligensi), tes bakat, dll. Contoh tes proyektif selain Rorschach adalah segala bentuk Tes Grafis dan TAT (penjelasan di nomor 8).

Tes ini akan memunculkan pikiran-pikiran atau perasaan testee yang “diproyeksikan” ke gambar inkblot yang bersifat ambigu. Hebatnya tes-tes yang sifatnya proyektif adalah tes ini mengungkapkan apa yang tersembunyi di bawah “gunung es”, yaitu kepribadian, motif, hingga black shadows yang mati-matian kadang kita sembunyikan. Seru ya πŸ™‚ Kadang kita memakai topeng pada interaksi kita sehari-hari, berusaha sama dengan lingkungan sosial kita sehingga tidak dianggap absurd, tapi dengan tes ini…..hehehe… kesannya gimanaa gitu ya πŸ™‚ Oke, kita lanjut ke psikodiagnostik berikutnya.

Β 

Β 7. Psikodiagnostik 7 : Observasi & Interview

Seperti judulnya, mata kuliah ini berisi tentang teori-teori pelaksanaan observasi dan interview, hingga bagaimana menginterpretasikan hasil pengamatan dan wawancara. Waktu itu kami mengerjakan tugas secara berkelompok, dan mengambil data di satu rumah sakit di Semarang untuk mengobservasi dan mewawancara pasien rumah sakit. Ini judulnya : “Kepuasan Pasien dan Keluarga Pasien terhadap Pelayanan Perawat di Rumah Sakit Roemani Semarang”.

Β 

8. Psikodiagnostik 8 : TAT & CAT (Thematic Apperception Test & Children Apperception Test)

Ini juga salah satu mata kuliah psikodiagnostik paporit πŸ™‚ Termasuk juga dalam tes proyektif, berupa deretan kartu, dimana testee diminta untuk menceritakan secara bebas apa yang terlintas dipikirannya saat melihat kartu tersebut. Eits, ada juga loh kartu kosong, alias kartu yang tidak ada gambarnya sama sekali. Seru sekali untuk mengetahui bagaimana orang membaca kartu ini πŸ™‚ Sama seperti Rorschach, kedalaman interpretasi serta jam terbang tester sangat berpengaruh terhadap hasil akhirnya. Ilmu yang benar-benar menarik πŸ™‚

Β 

So, mudah-mudahan cerita tentang ilmu ini bisa membuat teman-teman memiliki sedikit gambaran mengenai kuliah di psikologi πŸ™‚

Β 

Β 

Β 

Β 

Apa saja yang dipelajari di jurusan Psikologi?

Sejak diriku membuat blog ini tahun 2008, postingan secara konsisten dikunjungi adalah tulisan tentang Jurusan Psikologi. Banyak sekali komentar utamanya oleh adik-adik yang sudah akan lulus SLTA dan mungkin sedang mencari-cari jurusan apa yang paling cocok dengan keinginan serta disesuaikan dengan kemampuan. Terus terang saya agak kaget kok postingan saya ini termasuk yang rajin dikunjungi, padahal isinya cuma tentang “persaingan antar universitas” πŸ™‚ So, sebelumnya, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas apresiasi orang-orang yang sudah mampir ke blog saya, dan mohon maaf tidak dibalas satu persatu, karena biasanya sudah terjawab di bagian atas jadi tidak saya balas lagi πŸ™‚

Anyway, gara-gara banyaknya komentar itulah, saya jadi ingin berbagi cerita tentang kuliah yang mungkin sudah “usang” karena saking lamanya saya meninggalkan bangku kuliah, tepatnya hampir 10 tahun yang lalu πŸ™‚

Mengawali cerita pagi ini, izinkanlah diriku memperkenalkan diri sekali lagi, agar teman-teman yang membuka blog ini mengetahui latar belakang saya sekaligus dapat membandingkan apa yang saya dapat di universitas tempat saya ngampus belum tentu sama dengan kampus lainnya dan juga belum tentu sama dengan kondisi saat ini.

Saya kuliah di Psikologi (dahulu kala masih tersebut “Program Studi” yang berada di bawah Fakultas Kedokteran, tetapi saat ini sudah menjadi Fakultas sendiri) Universitas Diponegoro, Semarang. Angkatan Noceng (ada jaketnya loh, tulisannya PsikoNoceng, duuhh agak aneh sebenernya, tapi ya sudahlah, ikut aja sama desainer yang mbuat). Btw Noceng itu = angkatan 2000. Lalu lulus akhir tahun 2005 dan diwisuda Januari 2006.

Kuliah psikologi di awal-awal semester, jangan membayangkan langsung ngetes orang ya πŸ™‚ seperti kuliah-kuliah di tempat lain, tentu saja ada namanya pelajaran Kewarganegaraan *sstt saya cuma masuk hari pertama dan hari terakhir (untuk tau info kapan semesteran hehehe), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dll yang sudah sering “dimakan” pas sekolah.

Nah pelajaran yang paling seru dan belum pernah dapat di sekolah yaitu pelajaran Filsafat. Filsafat itu, katanya, pelajaran paling tua di dunia, sekaligus menjadi mata kuliah paling abstrak yang saya tahu πŸ™‚ Di psikologi, mata kuliah berbau Filsafat (dan yang menyedihkannya, semuanya mata kuliah wajib) ada 4, yaitu Pengantar Filsafat, Filsafat Ilmu & Logika, Filsafat Manusia, dan Filsafat Fenomenologi. Aseeem, dengernya aja baru sekali itu, gimana mempelajarinya πŸ™‚ So, siap-siap saja menguraikan dalam bentuk paper mengenai : mengapa sapi berkaki empat, mengapa manusia bisa berjalan, mengapa saya ada di sini, dll tapi tidak boleh dikaitkan dengan takdir, ketentuan Tuhan, dan sejenisnya πŸ™‚ Dan kita gak akan tahu apa fungsi dan keterkaitan ilmu filsafat ini sampai kita ada di dunia kerja dan berhadapan dengan kasus πŸ™‚ Jadi ya dinikmati saja hidangan kuliah filsafat hingga semester 5 bahkan 7 jika ngulang.

Anyway, dulu saya masih dapat kuliah dengan beban SKS yang cukup banyak, kalau saya tidak salah ingat, saya mengambil hampir 150 SKS, yang terbagi dalam 10 semester. Kalau jaman sekarang, banyak mata kuliah wajib yang dijadikan mata kuliah pilihan, sehingga semester 6 sudah bisa persiapan Skripsi, tapi jaman saya dulu, mata kuliah kayaknya gak abis-abis sampai semester 8, baru bisa konsentrasi memikirkan Tugas Akhir. Itu pun sebenarnya cukup menyedihkan karena faktanya, saya termasuk dalam rombongan S1 yang “tak diakui”.

Maksudnya?

Lulusan S1 Psikologi sebelum tahun 1993 dapat langsung membuka praktik dan dijuluki “psikolog”. Padahal dengan mata kuliah yang tidak terlalu jauh berbeda, karena sewaktu jaman saya kuliah (tahun 2000), mata kuliah Psikodiagnostik (nanti saya cerita ya apa itu mata kuliah psikodiagnostik) seluruhnya harus diambil alias wajib, tidak seperti sekarang yang merupakan mata kuliah pilihan. Jadi rasanya tidak adil karena faktanya saya belajar alat-alat tes dan belajar mengujinya tapi tidak diizinkan untuk membuka praktik dan dijuluki “psikolog” dan harus mengambil kuliah S2 dulu. Pernah saya lihat komentar orang yang intinya “gak susah kok ngambil kuliah S2”. Siapa bilang gak susah, mungkin ente ada di kota besar yang mudah mengakses universitas yang memberikan kuliah S2, tapi buat orang-orang lain yang sulit mengakses kampus, sehingga harus memikirkan biaya, waktu, tenaga untuk lanjut kuliah, it’s a different thing, you know πŸ™‚ -hehehe boleh ya curcol, khan blog sendiri.

Kembali ke…..laptop, yang ditulis dengan huruf miring itu boleh dibaca boleh tidak, karena pendapat pribadi πŸ™‚

Selain mata kuliah Filsafat, mata kuliah lain yang wajib orang tahu sebelum masuk psikologi adalah Statistik. Ya, banyak orang yang salah mengira, masuk psikologi tidak akan ketemu dengan pelajaran hitung-hitungan, dan berharap dengan masuk psikologi, maka tidak akan pusing dengan matematika πŸ™‚

Walaupun tidak terlalu njlimet, namun Statistika adalah ilmu yang perlu diwaspadai, heheee.. karena kebanyakan ya itu, teman-teman saya (termasuk yang ngomong), biasanya masuk ilmu sosial berharap tidak bertemu ilmu pasti, karena lemahnya disana. Statistika biasanya terbagi atas Stat 1, Stat 2. Ilmu ini dibutuhkan nantinya untuk menyusun Skripsi. Pernah lihat kan mahasiswa psikologi nyebarin kuesioner? Nah, setelah kuesioner disebar, akan diolah menggunakan ilmu ini, dengan bantuan software SPSS.

Selain mata kuliah yang mendasar dan “kelihatannya” tidak memiliki hubungan langsung dengan ilmu psikologi, tentu saja ada mata kuliah-mata kuliah yang memang mempelajari tentang ilmu psikologi, di awal-awal semester, mata kuliah yang biasa diberikan antara lain :

1. Psikologi kepribadian – mempelajari sejarah dan filosofi dasar pengelompokan kepribadian-kepribadian, jenis-jenis kepribadian, dll.

2. Psikologi umum – mempelajari seluruh aspek ilmu psikologi, jadi lebih ke perkenalan apa saja yang dipelajari dalam psikologi.

3. Psikologi klinis – mempelajari tentang masalah-masalah kejiwaan, jenis-jenis penyakit kejiwaan, sampai ke bagaimana penanganannya.

4. Psikologi perkembangan – mempelajari ilmu perkembangan manusia mulai dari lahir sampai tua.

Kalau masih awal-awal semester biasanya semuanya dipelajari secara umum, jika sudah mulai menjurus, misalnya psikologi perkembangan, mulai dipisah-pisah, misalnya ada psikologi perkembangan anak, psikologi untuk manula, dsb. yang biasanya berupa mata kuliah pilihan.

Di babak selanjutnya, nanti kita ngobrolin tentang mata kuliah Psikodiagnostik ya, yang sampai sekarang masih menjadi “trade mark”nya lulusan psikologi. Ditunggu ya πŸ™‚

Menulis, antara idealisme dengan realisasi

Friday, May 3rd 2013

Tidak terasa sudah lebih dari 1 tahun saya tidak menulis, wah seperti melayang-layang imajinasi saya, membayangkan dahulu begitu tingginya passion saya terhadap kegiatan tulis menulis, termasuk membaca, yang sekarang tenggelam di antara kesibukan mengurus anak dan keluarga, di antara rutinitas bekerja, dan di antara keseharian mencoba mencari me-time untuk sekedar minum soft drink favorit saya dan duduk santai sambil mengetik satu dua paragraf.

Memang tidak gampang untuk duduk dan memulai lagi seperti dulu, hanya memang saat ini saya baru dirotasi ditempat yang pekerjaan rutinnya tidak terlalu menuai kesibukan, sehingga saya memiliki sedikit waktu luang untuk mencari tambahan pengetahuan, mencari kesibukan sendiri, dan -tentu saja- memanfaatkan jam kerja untuk menulis.

Wah, jangan negative thinking dulu ya, heheheee, menulis memang tidak masuk dalam KPI individu saya, tapi saya merasa inilah salah satu jalan untuk mengasah keterampilan menulis saya yang sudah tumpul entah mungkin sudah berkarat dan siap dibuang πŸ™‚ daripada saya terus-terusan online chatting atau cari ol shop untuk beli barang, mending saya manfaatkan untuk kegiatan yang lebih berguna dan tidak menguras kantong hehehe…

Dan sebenarnya juga, saya merasa banyak sekali manfaat memiliki keterampilan menulis dalam dunia kerja. Bagi saya, utamanya, pekerjaan saya yang mesti banyak mengeluarkan ide-ide, membutuhkan keterampilan menulis yang baik, karena kita harus bisa menceritakan apa yang ada di kepala kita kepada orang lain dengan bahasa yang menarik dan mudah dimengerti. Tujuannya? Agar mereka mengerti dan mau mendukung “agenda” kita. Pekerjaan saya juga menuntut untuk mengolah informasi yang hanya bisa dimengerti oleh latar belakang yang sama sedemikian rupa sehingga dapat dicerna dengan mudah oleh orang lain yang berbeda latar belakang, utamanya orang yang “hanya” mengambil sisi kepraktisan dari latar belakang keilmuan saya.

Nah dengan hal ini lah, semula realisme padatnya waktu yang selalu dijadikan alasan berkurangnya waktu menulis, sekarang tidak boleh dijadikan pembenaran lagi untuk tidak mengasah pisau yang tumpul itu πŸ™‚ mudah-mudahan saya bisa melanjutkan “petualangan jurnalisme” saya lagi di dunia blogging πŸ™‚

Mohon diterima ya “ketukan pintu” saya untuk bergabung kembali πŸ™‚

Bingung

Hari ini Mayday nih, and I’m still in home, menunggu hari-hari kelahiran our first baby… Sudah masuk minggu ketiga sejak saya meninggalkan kantor untuk cuti..Β 

Tidak mudah sebenarnya untuk meninggalkan pekerjaan di kantor, apalagi sekarang sedang sibuk pekerjaan rekrutmen secara roadshow di 6 universitas. Ya mudah2an bisa berjalan lancar.

Terus terang saya bingung mau mengerjakan apa di rumah, secara I’m alone. untuk mengetik ini pun, malasnya minta ampun, karena saya ngerasa gak punya apa-apa untuk dibagikan kepada orang lain… ada gak ya yang punya ide?