Cerita Rekrutmen
Akhirnya saya punya kesempatan untuk cerita suka dukanya menjadi anggota tim rekrutmen di kantor…
Actually, saya tidak punya pengalaman sebelumnya dalam menghandle kegiatan rekrutmen berskala besar dengan sistem birokrasi yang cukup panjang. Sebelumnya, saya pernah bekerja selama kurang lebih 2 tahun menghandle kegiatan rekrutmen, tapi dalam skala kecil, dalam arti, orang yang direkrut jumlahnya tidak banyak, paling banyak 10 orang. Tapi memang nyarinya mati-matian, kerjanya sendiri, paling banyak 2-3 orang yang mengerjakan, belum lagi user mintanya cepet… apalagi kalau kerja di konsultan, heheheee….semakin cepat dapet kandidat, semakin cepat mendapat keuntungan, jadi selalu deadline setiap hari.
Kembali ke cerita semula..
Tujuan melakukan rekrutmen perusahaan pada dasarnya sama saja, yaitu mengganti posisi-posisi yang kosong dan/atau akan kosong karena si pemegang posisi/jabatan tidak dapat melanjutkan tugasnya lagi (entah karena akan pensiun, resign, sakit, meninggal, atau hal-hal internal lain seperti ybs akan dipromosikan, dimutasi/rotasi ke tempat lain). Kebutuhan inilah yang menjadi landasan jumlah kandidat yang akan direkrut. Di perusahaan tempat saya bekerja, kebutuhan akan calon karyawan baru tertuang dalam rencana kerja tahunan, dengan menganalisa jumlah karyawan yang akan pensiun dan dikombinasikan dengan formasi organisasi yang ada.
Kegiatan pra rekrutmen dimulai dengan menganalisa sistem rekrutmen yang tepat, efektif, dan efisien dalam mencari kandidat. Karena sudah beberapa tahun terakhir perusahaan menyelenggarakan kegiatan rekrutmen secara rutin, maka hal ini tidak terlalu memusingkan. Tahap-tahapnya sudah jelas, hanya untuk pertama kalinya, perusahaan menetapkan kebijakan rekrutmen menggunakan sistem online. Hal ini sejalan dengan efisiensi, efektivitas, dan tentu saja dalam rangka lebih maju dari sisi teknologi.
Tahap rekrutmen terdiri dari beberapa tes, yaitu seleksi administrasi, Tes Aptitude, TPA, TOEFL, Psikotes tertulis dan wawancara, dan Tes kesehatan serta wawancara akhir.
Alhamdulillah saya dipercaya untuk memback-up tahap psikotes, mulai dari menghubungi kandidat konsultan, memfasilitasi perusahaan dalam mencari konsultan psikologi yang terbaik, baik dari segi cost maupun kompetensi, hingga sebagai tenaga counterpart dari perusahaan untuk menelaah standar-standar kompetensi yang telah dibuat oleh konsultan agar dapat sesuai dengan kultur dan tuntutan jabatan. I really love this job
Ternyata kegiatan rekrutmen untuk mencari lebih dari 250 orang ini, merupakan kegiatan yang sangat padat dan menyita waktu. Printil-printilnya itu loh yang bikin ribet, misalnya surat menyurat, booking tiket pesawat, hotel untuk konsultan, cari gedung/tempat tes, kontrak konsultan, sampai pembayaran, dll… Butuh ketelitian dan konsistensi dalam melakukan seluruh kegiatan, jika agak kurang teliti dikit, bisa jadi selanjutnya jadi merugikan. Kemarin saya juga sempet agak kurang teliti dikit, maklum…pengalaman pertama… akibatnya memang ga terlalu ngaruh, tapi agak menggemaskan
But anyway, cukup seru juga pengalaman pertama ini. Banyak sekali hal-hal baru yang saya pelajari. Hasilnya juga tidak terlalu mengecewakan. Mudah-mudahan calon karyawan yang baru ini bisa ikut memberikan kontribusi bagi perusahaan…
“Who’s that girl?”
Beberapa minggu yang lalu saya sempat dinas ke Jakarta. Actually, saya ga begitu seneng dinas, karena walaupun dapat kompensasi yang cukup memadai, sebenernya saya orang rumahan, bukan tipe orang yang suka jalan 1-2 hari. Tapi kalau travelling sampai 1-2 minggu sih justru saya seneng
Anyway, untuk menetralisir ketidaksukaan saya dengan dinas, saya memotivasi diri saya dengan selalu belanja di Periplus bandara setiap saya dinas. Jadi kalo saya dinas, yang terpikir adalah Periplus dengan segala macam bukunya yang asyik-asyik
Nah, terakhir saya dinas, saya menemukan buku yang cukup menggelitik. Judulnya “Who’s that girl?” kalo ga salah yang menulisnya Alexandra Potter. Sinopsisnya adalah what if you see your younger self? what will you say? what will you change? *this book is in English*
Ceritanya adalah seorang perempuan lajang berusia 32 tahun, seems like having perfect life, having fiancee, her career is on the air, she’s having her own company, etc. Bahkan tunangannya udah membeli rumah untuk mereka nanti (ugh!)
Ternyata dia ga nyaman dengan keadaannya yg sekarang, dia sadar kalo dia dan tunangannya adalah perfect couple, but that’s it. She chooses him karena dia mapan, begitu juga sebaliknya. Dan akhirnya dia putus.
Saat seperti itu lah dia ketemu dengan seseorang yang begitu mirip dirinya saat dia berusia 22 tahun, dan ternyata itu adalah dirinya sendiri. Dirinya yang 22 tahun yang kelihatan hidup, energik, tidak takut salah, bebas, membuatnya berpikir tentang dirinya sendiri, kenapa dia bisa berubah drastis saat dia berumur 32 tahun. And it teaches everything to her, including finding her soulmates (which actually had already met her 10 years ago, but she didn’t realize it dan malah sleep with other f**k band vocalist for just one nite stand and he dumped her! hah!).
Nice book, though, mengajarkan hal-hal yang bagus, bahwa kita ga perlu bersedih atau mengutuk masa lalu kita yg compang camping, karena kalau kita tidak melalui semua itu, kita ga akan bisa jadi sekuat dan sedewasa sekarang… great book!
Uenak’eee jadi orang Indonesia (?)
Sekitar seminggu yang lalu saya menonton salah satu berita yang agak “lucu” dalam kerangka pikir saya. Sekumpulan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di Arab Saudi “menginap” di kolong jembatan dan di jalan-jalan dekat bandara. Ada 2 versi (yang tentu saja saling bertentangan) :
Versi 1 : seperti juga diberitakan di sini
Versi 2 : diberitakan di sini
Yang satu versi pemerintah : Orang Indonesia pada mau umroh, pulang umroh ga langsung pulang tapi kerja secara ilegal, giliran mo pulang, “menginap” di kolong jembatan biar ditangkap dan dipulangkan gratis (uenak’eeee..)
Yang satu versi TKI (tapi ini TKI beneran a.k.a TKI legal) : Disiksa majikan, ga bisa pulang, akhirnya kabur dan “menginap” di kolong jembatan.
Melihat berita itu, ayah saya cuma komentar : “Ada-ada..saja orang Indonesia ini, pemerintah susah ngurusin orang ratusan juta dengan segala ulahnya..”
Heheeee..saya cuma tersenyum kecil. Ya…memang begitulah orang Indonesia. Saya jadi teringat peristiwa yang lebih lucu lagi. Di suatu tempat, ada penggusuran rumah oleh aparat, karena tidak ada izin mendirikan bangunan. Masyarakat yang digusur ngaku kalau mereka memang ga mengantongi dokumen resmi, tapi ketika diwawancara oleh wartawan mereka berseloroh kira-kira seperti ini : “Mohon bantuan pemerintah untuk membuatkan rumah sebagai penggantinya…”
Uenak’eeeeee………
Cerita-cerita bulan Juli
Sudah lamaaaa banget saya ga nulis-nulis di blog, rasanya kangen juga…heheheee…. lucu juga ya kalo dipikir-pikir, dulu, belasan tahun yg lalu saat saya masih punya yg namanya diary, buku harian yg selalu saya bawa kemana-mana. Dulu, saya suka sekali dgn buku-buku kecil berwarna-warni yg biasa dijual di toko buku,, haruuuummm juga kertas-kertasnya. Tiap berapa bulan sekali, saya ganti buku karena sudah penuh tertulis tulisan2 ga jelas. Saya seneng banget dulu dgn diary, dan itu berlangsung dari SD sampai saya SMA, pas SMA saya bergabung di redaksi majalah sekolah, sehingga saya bisa curhat pake cerpen dan cerbung di majalah (isi ceritanya tentang saya sendiri dan gebetan saya yg kakak kelas hahhaahahaaaa)…
So, jaman sudah berganti, sekarang saya lbh nyaman curhat di blog. Kok lebih nyaman? kan jadi ga privat, blogmu dibaca banyak orang? hehehee… Saya kira ini pergeseran yang sangat lucu, dulu orang merasakan kepuasan tersendiri kalau buku hariannya terkunci, disimpen di tempat yg ga ada satu orang pun yg tau, semakin orang penasaran apa isinya, maka semakin puaslah ia dengan rahasianya…hehehee…Tapi sekarang, lihat saja, justru, semakin banyak orang yg membaca isi curhatmu, semakin puaslah ia. Suatu pergeseran yang teramat sangat, welcome to narcissme culture
Actually, ga ada cerita apa-apa bulan Juli ini, secara saya begitu sibuknya dalam Tim Rekrutmen Calon Karyawan baru, ditambah lagi saya diikutkan dalam tim lain, yaitu Tim Survey Kepuasan Kerja Karyawan. Asik sih, tapi saya tepar berkali-kali karena gagal mencuri waktu untuk beristirahat.
Nanti kalo sudah selesai kegiatan rekrutmennya, saya mo cerita-cerita di blog ah, suka dukanya hehehee… karena di bbrp perusahaan terdahulu, saya belum pernah ikut tim yang spt ini, krn setiap hari juga merekrut orang. Kalo tim ini kan cuma setahun sekali, dan jauh lbh capek karena orang yg mau dicari banyak sekali.
Udah ah, kerja dulu…
Search Engine terbaru!
Baru dapet info bagus neh, ada search engine baru (klo ga salah punya Microsoft), namanya
mayan, tampilannya juga cukup oke, bisa jadi alternatif searh engine selain google dan yahoo
Jurusan Psikologi
Info ini saya dapet dari : http://snmptn.ac.id/
tentang penerimaan mahasiswa baru tahun 2009 yang melalui jalur SNMPTN
Iseng2 saya liat “persaingan” masuk jurusan PSIKOLOGI.
Berikut data yg saya dapatkan :
Psikologi Undip, daya tampung 20, pelamar thn lalu 534
Psikologi UGM, daya tampung 21, pelamar thn lalu 763
Psikologi UI, daya tampung 25, pelamar thn lalu 2157
Psikologi Unpad, daya tampung 90, pelamar thn lalu 2032 (jur IPA)
Psikologi Unsyahkuala, daya tampung 20, pelamar thn lalu 857
Psikologi USU, daya tampung 15, pelamar thn lalu 503 (jur IPA)
Psikologi UNS, daya tampung 75, pelamar thn lalu 1093 (jur IPA)
Psikologi Unair, daya tampung 80, pelamar thn lalu 1624
Psikologi Univ.Negeri Surabaya, daya tampung 30, pelamar thn lalu 839
Psikologi Unbraw, daya tampung 35, pelamar thn lalu 657
Psikologi Univ.Neg Malang, daya tampung 35, pelamar thn lalu 575
Setelah saya liat2 lagi…ternyata saingan masuk Psiko undip paling ga kompetitip, saya jadi bertanya-tanya, saya ini valid ga sih gelar sarjana psikologinya heheheee…..
Semangat “Seperguruan”
Beberapa hari ini saya disibukkan oleh pekerjaan besar, Rekrutmen dalam skala besar. Mencari 275 calon karyawan di luar sana, yang tentu saja, bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar yang siap mencaplok para talenta itu
Salah satu pekerjaan saya adalah mencari konsultan psikologi yang akan melakukan psikotes untuk peserta. Kantor lalu mengundang konsultan-konsultan kelas kakap yang sudah biasa menangani ratusan bahkan ribuan orang dalam satu periode psikotes.
Hufff..sempat minder juga melihat pengalaman mereka dengan psikolog-psikolog senior yang berseliweran di proposal mereka. Titik kepercayaan diri saya langsung turun ke derajat terendah, dalam hati, kapankah saya akan seperti mereka?
Anyway,
Salah satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah faktor latar belakang perguruan tinggi para psikolog itu. Setelah saya cermati, hampir semua konsultan memiliki preferensi psikolog dari universitas tertentu. Misalnya, anggap saja konsultan tersebut memiliki background universitas tertentu, maka 8 dari 10 psikolognya dapat dipastikan berasal dari universitas tersebut.
Saya rada tercengang juga, dalam hati saya mbatin.
Universitas Diponegoro, dengan Fakultas Psikologinya baru berdiri di tahun 1996 dan baru tahun 2000-an menelurkan psikolog nya (itu pun bukan psikolog profesi, karena sampai saat ini yang saya tahu, belum ada Program Magister Psikologi di Undip), tentu pula masih sangat sedikit alumninya. Bila satu angkatan hanya sekitar 100 orang, maka belumlah genap 1000 orang alumnus Psikologi Undip yang berseliweran di dunia kerja.
Dengan kondisi yang seperti ini, ada sedikit kecemasan, kapankah Undip, terutama Fakultas Psikologinya, bisa disejajarkan dengan Universitas lain seperti UI, Unpad, UGM, dan bahkan di Semarang pun, masih kalah pamor dengan Unika Soegijopranata. Mungkinkah karena belum banyak alumninya, atau hanya sekedar kurang kuatnya persatuan alumni Psikologi Undip? Kapankah nama Japsi (Jasa Psikologi Undip) – ga tau sekarang gimana nasibnya, dapat setenar LPT-UI?
-dariseorangyangsangatmencintaialmamaternya, tanpabermaksudmenyinggungsiapapun, karenamungkinsayajugatersinggung-
Dia…
Hingga aku temukan serenade yang indah,
tapi ia masih juga tak ikut mendengarkannya,
Mungkin ia tak hirau,
atau barangkali aku yang salah berpikir,
Namun kusangka aliran nada itu indah,
ia tak mungkin berbohong mengenai kebeningan,
Masih juga kami berkelit di sudut ruangan,
aku bersemedi, menggelegak mencari kenikmatan sendiri,
Namun ia tak jua tampak,
ia menertawakan yang kusedihkan,
dan aku memunguti kebahagiaannya untuk dikumpulkan,
betapa pahit sebuah hubungan,
Arif mungkin perlu kuurai maknanya,
Karena ku berhenti menyapa angin,
Telanjurkah aku terdiam,
hingga aku tidak mengerti arti kata “pengecut” dan “menentang arus”
gundah juga aku,
Mungkin ia sudah lari,
tapi aku tak peduli.
[hujan kali ini membuat lubang-lubang besar di tanah yang basah]
ia tak sanggup berkata-kata kali ini,
mengenai gundahku yang telanjur mengeras.
-tentang kekecewaan dan perih-
Perempuan Berjilbab Menjadi Penasihat Obama
Berita ini saya kutip dari blog http://shodiq.com
By Republika Newsroom
Kamis, 23 April 2009 pukul 08:30:00
Satu lagi peran Muslim dalam kehidupan bernegara Paman Sam. Seorang wanita keturunan Mesir, warga Amerika berjilbab ditunjuk sebagai penasihat Presiden Obama.
Dalia Mogahed, analis senior dan direktur eksekutif Gallup Center, lembaga survey independen tersohor, untuk Kajian Muslim adalah nama tokoh yang ditunjuk menjadi salah satu anggota Dewan Penasihat Obama untuk Hubungan dan Lingkungan Berdasar Keyakinan.
Penunjukkan itu akan membuat Dalia memiliki kesempatan memberi masukan kepada Presiden Obama terhadap sikap praduga dan masalah yang dihadapi dunia Muslim.
Itu tak hanya membuat warga Mesir bahagia–meski juga tetap waspada–, pihak Arab pun mengamati lebih dekat tanda-tanda kepemimpinan baru di Washington yang berupaya meningkatkan hubungan dengan Islam. Hubungan yang diyakini banyak Muslim dirusak dengan parah selama delapan tahun oleh pemerintahan Bush.
Pemilihan Mogahed juga dilihat oleh banyak pihak di Timur Tengah sebagai satu langkah maju Obama menghapuskan stereotip dan penghakiman terhadap Muslim, sesuatu yang menimpa komunitas sejak 11 September 2001 silam.
“Dalia Mogahed adalah contoh terbaik dari wanita Muslim sukses. Ia membuktikan jika Muslim pun dapat berhasil di segala bidang, paling tidah di bidang keahliannya,” ujar seorang pengunjung situs yang menuliskan komentarnya di harian independen Al Masry al Youm, seperti yang dikutip oleh Latimes.com, Rabu, 22 April.
Dalia, kelahiran Mesir pindah bersama keluarganya ke Amerika Serika hampir 30 tahun lalu. Baru-baru ini, ia menjadi salah satu penulis utama dalam “Who Speaks for Islam” (diterjemahkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Saatnya Muslim Bicara”) dengan John Esposito, guru besar ilmu politik Amerika, orang yang dikritik banyak pihak sebagai pemberi maaf Islam. Dalia dan Esposito menerbitkan lembar opini bulan ini dalam The Times, berjudul Ketidakpedulian Amerika terhadap Islam dan Dunia Muslim.
Meski seorang Islam, Dalia tetap menyatakan diri loyalitas pertama akan diberikan kepada negaranya, demikian dalam sebuah wawancara dengna Al Masry al Youm, Senin pekan ini yang mengecewakan beberapa orang.
“Saya pikir loyalitas pertama ia pada Islam, baru yang lain,” ujar seorang komentator, masih di website Al Masry. “Saya takut mereka mungkin akan mempermainkan dan menggunakan kamu sebagai kedok politik mereka yang tidak benar-benar mengarah pada Mesir, Arab, dan dunia Muslim,” imbuh komentar itu./itz
Cara mengetahui orang yang mengkopi tulisan Anda di blog
Anda mungkin penasaran…. setelah menulis postingan panjang lebar, dengan mengeluarkan banyak pemikiran, for the sake of sharing experience, knowledge, etc…. ternyata ada aja orang yang enak-enakan mengambil tulisan Anda untuk diupload ke blognya dia (tapi ga masalah sih kalo orang tersebut menuliskan sumbernya).
Nah, untuk mengecek siapa yang mengkopi blog anda, anda bisa cek di :
http://www.copyscape.com
ini sih cuma top 10 aja, tapi untuk melihat lebih banyak, ada harga premiumnya
tapi ya lumayanlah, kalau sekedar ingin tahu..
PS : saya dapat info ini dari : http://trik-tips.blogspot.com …
Thanks dan salam kenal untuk pemilik blognya
Jumlah Pengunjung di WordPress tiba-tiba berkurang?
Hari ini seperti biasa saya mengecek blog saya di wordpress ini… Alangkah terkejutnya saya ketika mendapat jumlah pengunjung blog saya menjadi hanya 971 guest. Padahal kemarin jumlah guest blog saya sudah hampir mencapai 1.700. Ketika saya lihat, ada spam comment, akhirnya saya delete spam itu. Tapi jumlah pengunjung tetap saja segitu, ga kembali ke semula. (Apakah ini karena spam?)
Ada apa? Memang sih, orang bilang ” sudahlah, cuma blog aja dipermasalahkan”. Tapi yaa namanya blog sendiri, ada kepuasan tersendiri ketika melihat jumlah pengunjung meningkat. Tapi yasudlah, mudah-mudahan ini hanya terjadi 1x ini saja. Tapi kira-kira saya harus tanya atau komplain ke mana ya?… *bingung*
Behavioral Interview
Melanjutkan bahasan mengenai kompetensi dalam perusahaan, seperti yang telah saya jelaskan, bahwa root dari Competence Based Human Resource Management, alias Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi, adalah KOMPETENSI itu sendiri.
Bila definisi, penjelasan, dan poin-poin dari Kompetensi telah dibuat, maka seorang HR specialist tidaklah sulit untuk menterjemahkan poin-poin tersebut kepada seluruh aspek ke-SDM-an. Salah satu aspek / pekerjaan dalam dunia SDM adalah kegiatan Rekrutmen.
Tujuan utama melakukan kegiatan rekrutmen adalah untuk memperoleh karyawan yang sesuai dengan kebutuhan (a.k.a KOMPETENSI yang dibutuhkan). Ada beberapa tools dalam kegiatan rekrutmen, namun entah kenapa wawancara adalah salah satu tools yang menurut saya bisa diandalkan. Tentu saja dengan beberapa kriteria yang terstandar sehingga prosesnya sendiri tidak melenceng dari kaidah-kaidah wawancara dan tidak bias karena alasan subjektif (halo effect dsb).
Salah satu jenis wawancara yang cukup populer adalah BEI atau Behavioral Event Interview, yaitu suatu wawancara yang mengungkap perilaku orang yang diwawancara di masa lalunya, yang dapat memprediksi perilakunya di masa mendatang.
Untuk dapat melakukan interview yang baik sesuai kompetensi yang diperlukan, kita perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Ada strukturnya
- Untuk menghindari keteledoran saat wawancara
- Prosesnya terstandar, dapat membandingkan antar kandidat
- Perlakuan yang setara antar kandidat
Berdasarkan kompetensi
- Kompetensi dapat mencakup experience itu sendiri
- Kompetensi tidak terbatas pada pengalaman kerja tertentu saja
- Kompetensi ditentukan oleh analisa pekerjaan yang cermat
- Kompetensi lebih berhubungan dengan kinerja yang berhasil
Berfokus pada perilaku / behavior
- Prediktor terbaik perilaku masa mendatang adalah perilaku masa lampau
- Pertanyaan hipotetis bisa saja palsu
- Pertanyaan behavior-based dapat diverifikasi
Dan inilah tahapan membuat pedoman wawancaranya :
- Mengembangkan profil kompetensi
- Menyusun daftar pertanyaan yang mengacu pada kompetensi tersebut
- Mengembangkan sistem rating dan skala yang terstandardisasi
- Validasi wawancara
Sedangkan tahap-tahap wawancaranya sendiri adalah sbb :
- Introductory conversation : Adalah percakapan pembuka yang lebih bertujuan untuk mencairkan suasana wawancara
- Preliminary questions : Pertanyaan-pertanyaan pembuka, biasanya pertanyaan yg sifatnya konfirmasi atas CV kandidat, misalnya daftar pengalaman kerja, skill yang dimiliki, dll yang tercantum di CV.
- Prepared questions : Behavioral question yang sudah disiapkan, yang didasarkan pada kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan
- Closing conversations / questions from candidates : Percakapan penutup.
Syarat-syarat Behavioral Interview
- Pertanyaan terbuka (apa, bagaimana, jelaskan…, dsb)
- Menanyakan tentang situasi yang serupa
- Dapat menampilkan respon spesifik dalam kerangka behavioral, contoh : bagaimana Anda menangani situasi A ? ; apa yang Anda lakukan untuk mengatasi masalah B?
- Menyampaikan pernyataan pembuka sebelum pertanyaan yang sesungguhnya. Contoh : Berbicara di depan umum adalah persyaratan jabatan ini. Berikan contoh dimana Anda berada di situasi tersebut….?
- Berikan pertanyaan yang umum, sederhana, dan jelas. Jangan gunakan jargon atau sesuatu yang berhubungan terlalu spesifik.
- Tanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat positif
- Gunakan kata-kata “most”, “least”, “best” (paling….)
- Gunakan pertanyaan lanjutan untuk konfirmasi jawaban kandidat. Contoh : “Dan apa yang terjadi selanjutnya?”, “Lalu apa hasilnya?”
- Kontrol wawancara : jangan terima kata “kami…” dan generalisasi, tetap on-track (wawancara jangan melebar).
Mengapa Penanganan Pasien Sakit Mental Tidak Tepat?
Tadi pagi saya sempat melihat sebuah berita yang cukup miris. Seorang laki-laki dikerangkeng oleh keluarganya (dengan ukuran kerangkeng hanya 1 meter x seukuran lebar badannya) karena dia mengamuk dan membuat kericuhan di lingkungannya. Sudah satu tahun si lelaki yang masih terbilang muda itu terkurung di kerangkeng. Kini kondisinya semakin memprihatinkan karena kedua kakinya mengalami kelumpuhan karena tidak pernah digunakan selama 1 tahun dikerangkeng.
Saya juga pernah melihat berita-berita sejenis sebelumnya, bertemakan penanganan orang yang dianggap “gila” atau “sakit jiwa”. Di tengah modernisasi penanganan kesehatan, ternyata masih sangat banyak masyarakat Indonesia yang menangani penyakit mental dengan cara-cara yang “tradisional” bahkan semakin memperparah kondisi si pasien.
Contoh di atas menunjukkan bahwa bukannya sembuh, pasien malah semakin terkungkung, kebutuhan sosialnya kian terbatasi (atas nama kedamaian lingkungan, karena takut kambuh dsb), mentalnya sebagai manusia juga terlukai karena merasa terpinggirkan, tidak dianggap ada.
Banyak alasan yang dikemukakan pihak keluarga. Pertama, faktor ekonomi. Karena ketiadaan biaya, banyak orang yang pasrah dengan tidak menggunakan jalan medis untuk mengobati si pasien.
Kedua, kurangnya informasi mengenai penanganan yang tepat bagi penderita sakit mental. Akibatnya, keluarga dipengaruhi oleh cara-cara tradisionil yang dianggap efektif untuk menyembuhkan pasien. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi keputusan metode pengobatan, seperti faktor budaya / kultur (lihat pengobatan Ponari yang begitu fenomenal dan menular sehingga memunculkan Ponari-Ponari yang lain), kurangnya saluran informasi mengenai penyakit tersebut sehingga dikait-kaitkan dengan mistis sehingga penyembuhannya juga harus memerlukan penanganan secara mistikal, dsb.
Ketiga, masih adanya stigma negatif mengenai pasien sakit mental. Pasien sakit mental tidak diperlakukan sejajar dengan pasien sakit fisik, dalam arti, seseorang yang mengidap penyakit jantung atau liver bisa dijenguk, diberi perhatian, dan sebagainya. Sedangkan pasien sakit mental adalah orang yang perlu disembunyikan dan tidak perlu tetangga tahu – karena berakibat malu, dipandang aneh karena punya anggota keluarga yang sakit jiwa, dsb. Padahal, di negara lain, pergi ke psikolog atau psikiater adalah sesuatu yang sudah menjadi kebutuhan, seperti laiknya orang medical check up setiap tahunnya. Bahkan, di negara-negara tertentu, seseorang sudah memiliki psikolog atau psikiater pribadi (keluarga), seperti halnya dokter keluarga.
Keempat, berhubungan dengan poin 2 dan 3, minimnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jiwa. “jumlah psikiatri di sebagian besar negara berkembang hanya sekitar 0-1 per 100 ribu penduduk dan belum tersebar merata. Dari jumlah itu, sekitar 65,1 persen psikiatri melakukan praktik di rumah sakit jiwa, 15,9 persennya berpraktik di rumah sakit umum dan 19,0 persennya berpraktik di tempat-tempat praktik khusus.” (http://www.gizi.net)
Selain hal-hal di atas, tentu saja banyak hal lain yang menjadi alasan penanganan yang tidak tepat terhadap pasien sakit mental. Saya tidak akan membeberkan bagaimana penanganan pasien secara tepat, karena saya bukanlah psikolog klinis apalagi psikiater
Semoga saja kasus-kasus seperti ini tidak berkelanjutan dan pasien mendapatkan penanganan dengan semestinya.
Sepuluh Perawatan Spa Teraneh
Hem…emang a little bit yakss and weird, but..yah..sebagai referensi aja (tapi juga kalo mau nyoba juga gapapa heheee)
Sumber : detik.com
1. Masker dari kotoran burung
Di Ten Thousand Waves Spa, Santa Fe, AS, tersedia paket perawatan masker wajah yang menggunakan bahan dari kotoran burung bul-bul. Kadar nitrogen yang tinggi dalam kotoran burung itu dipercaya bisa menghilangkan bakteri di kulit dan mengangkat sel kulit mati dengan lembut bila dibandingkan dengan peeling. Konon masker ini sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu oleh para geisha di Jepang. Kenakan selama 55 menit, bila digunakan secara teratur, masker ini akan membuat kulit lebih cerah dan lembut.
2. Pedikur ikan
Kuku yang bersih dan terawat pasti jadi bagian dari perawatan kecantikan para wanita. Kini ada pedikur yang unik, yakni sel-sel kulit mati di kaki dibersihkan oleh bantuan ikan-ikan kecil yang disebut dengan doctor fish. Dalam perawatan ini, kaki kita akan dicelupkan ke dalam baskom yang berisi doctor fish. Ikan-ikan yang tak bergigi itu sebenarnya sudah lama dipakai untuk mengobati penyakit kulit, seperti psoriasis dan eksema, jadi tidak berbahaya.
3. Viagra untuk rambut
Ada sebuah salon di London, Hari’s Salon, yang mengombinasikan sperma sapi jantan dan katera, akar tanaman dari Iran yang kaya protein, yang digunakan untuk merawat rambut rusak. Perawatan yang bernama Aberdeen Organic Bull Sperm ini diklaim efektif untuk menyuburkan rambut, melindungi, dan merawat rambut rusak.
4. Berendam dalam bir
Setelah hari yang sibuk, kembalikan kesegaran tubuh dengan berendam dalam bir hitam. Itulah terapi relaksasi yang ditawarkan oleh sebuah hotel di Republik Czech. Konon vitamin dalam bir bisa mengembalikan kemudaan kulit dan mengendurkan otot-otot yang tegang. Selain itu, terapi bir ini diklaim bisa mencerahkan kulit dan bagus untuk rambut. Dengan berendam selama 20 menit ditambah 20 menit rileksasi, Anda perlu merogoh kocek sekitar 500.000 rupiah.
5. Mandi mi ramen
Pernahkah Anda membayangkan berada di lautan mi? Kini impian itu bisa diwujudkan di spa Hakone Kowakien Yunessun, Jepang. Spa ini memiliki perawatan berendam dalam mi ramen, kolagen, dan ekstrak bawang putih. Konon, terapi ini bisa meningkatkan metabolisme kulit. Hm.., seperti apa ya aroma tubuh kita setelah keluar dari “mangkuk” mi itu?
6. Perawatan minyak zaitun
Khasiat minyak zaitun dalam dunia kecantikan memang sudah terkenal sejak dulu. Di Murad Spa, California, AS, Anda bisa merasakan kehangatan eucalyptus dan tea tree yang direndam dalam minyak zaitun. Larutan tersebut kemudian dicipratkan ke seluruh tubuh hingga merata. Dengan cara ini kulit yang kering dan rambut pun akan menyerap minyak zaitun dengan maksimal.
7. Pijat bola golf
Anda yang suka mencoba berbagai teknik pijat kini bisa mendapatkan terapi pijat menggunakan bola golf. Pijatan yang terdapat di The Spa Four Season Resort ini mengombinasikan peregangan dan teknik therapeutic (terapi energi untuk penyembuhan dan mengurangi sakit) sebelum masuk ke terapi inti, yaitu memijat dengan bola golf hangat. Bagian tubuh yang dipijat adalah otot besar di bagian tulang belakang dan belakang leher. Hasilnya, bagian-bagian tubuh tersebut jadi lebih rileks dan lentur.
8. Facial emas
Selain untuk dijadikan aksesori dan perhiasan, emas pun punya nilai lebih dalam kecantikan, yakni sebagai antiperadangan. Facial dengan bubuk emas 24 karat ini dipercaya bisa meningkatkan kekencangan kulit, melawan radikal bebas, mencerahkan kulit, dan memberi efek keemasan pada kulit.
9. Jebakan rumput
Sejak tahun 1903, Hotel Heubad di wilayah utara Italia punya perawatan tubuh yang disebut Hay Bath. Tamu spa yang ingin mencoba akan diminta berbaring di lantai beralas kain, kemudian seluruh tubuhnya ditimbun oleh jerami atau rumput yang sudah dihangatkan, hingga ke leher. Setelah itu, kain tadi akan membungkus tubuh dan dibaringkan di atas kasur air yang dipanaskan sekitar 107 derajat. Bila mandi rumput ini dilakukan lima kali dalam seminggu, nyeri otot dan sendi disebut-sebut akan hilang. Namun, terapi ini tidak disarankan untuk mereka yang punya riwayat alergi.
10. Scrub dengan kaktus
Kalau kebanyakan orang takut tertusuk duri kaktus, terapis spa di Apuane Spa dari Four Seasons Resort Punta Mita, Meksiko, justru memakai kaktus sebagai inti perawatan mereka. Pijat kaktus Hakali ini ternyata tidak seseram namanya. Terapi dimulai dengan pijatan lembut menggunakan lotion yang terbuat dari daun sage tequila. Kemudian daun kaktus yang lebar ditempelkan ke kulit, tentu saja setelah dihilangkan duri-durinya. Tanaman ini telah dikenal bisa menghilangkan racun dan melembabkan kulit.
aku merasa.. mencintaimu seperti menenggak ramuan pahit yang tak mengobati apapun. luka-luka yang selalu kau ulangi, mencambukku terus menerus, aku jadi bertanya-tanya, apakah kau melakukannya dengan sadar, sengaja, ataukah memang perangaimu? iya sudahlah aku bertanya, namun kau tak hiraukan. haruskah aku tak hiraukanmu juga?
-
Archives
- October 2009 (1)
- September 2009 (1)
- August 2009 (1)
- July 2009 (1)
- June 2009 (2)
- May 2009 (2)
- April 2009 (5)
- March 2009 (2)
- February 2009 (2)
- January 2009 (3)
- December 2008 (5)
- November 2008 (9)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Spent early 17 years in Palembang, moved to Semarang, learning psychology at Diponegoro University. Joined some activities, such as Indonesian Red Cross, Indonesian International Work Camp of PKBI-Jateng, and campus magazine. The first job was librarian assistant for about 3 years while finishing the study.