Well, ini mungkin postingan yang tidak menarik, jadi maafkanlah buat teman-teman yang mengetikkan “musim hujan” atau “musim penghujan” pada search enginee dan melayanglah ke blog saya. Kenapa tidak menarik? Karena postingan ini ya tentang cerita saya sendiri, hehehee… karena yang saya tahu, orang-orang tidak menyukai membaca cerita otobiografi orang tidak terkenal . Jadi kalau mau kabur dari blog ini juga gak apa-apa, tapi mungkin sebelumnya bisa juga liat-liat postingan saya yang lain hehehee… Saya nulis ini karena memang pengen nulis aja sih, karena ini juga salah satu kenangan “terindah” saya selama kerja di kota metropolitan.
Hampir dua tahun yang lalu, saya merasakan parahnya musim hujan. Februari 2008 di Jakarta. Kata orang siklus banjir besar di Jakarta berulang setiap lima tahun.
Banjir dimana-mana. Hari itu, kalau tidak salah hari Selasa atau Rabu, sore hari saya sudah mulai ketar ketir karena hujan tidak berhenti-berhenti. Tempat kerja saya berada di daerah Pluit, sedangkan saya ngekos di Slipi. Sudah jam lima sore, saatnya pulang kerja tapi saya dan teman-teman masih pada di kantor nunggu hujan reda. Teman kantor yang paling karib dengan saya yang ada di lantai dua kantor kami sudah turun dari jam setengah lima. Katanya lagi males-malesan kerja, apalagi lagi hujan. Akhirnya kami ngobrol aja sampai jam setengah enam.
Ketika setengah enam, hujan mulai mereda, kami mulai bergerak keluar kantor. Di luar kantor, tepatnya di pinggir-pinggir jalan, kami lihat orang-orang pulang kerja sudah menumpuk, rupanya angkot Grogol-Pluit (kalau tidak salah) ga ada yang berani narik gara-gara banjir dimana-mana, takut mogok. Akhirnya kami menunggu angkot apa saja. Datanglah angkot yang menuju Kota, bodo amat akhirnya kami naik juga. Karena angkotnya cukup tinggi (seperti angkot LX 300), mungkin dia berani juga menembus banjir.
Tiba di perempatan manaa gitu saya juga lupa, angkotnya mo belok ke kiri arah Kota, ya memang ke arah kota sih angkot itu, terpaksa saya dan temen saya turun, akhirnya dari situ kami naik bis kota yang entah jurusannya kemana. Dari bis ini, alhamdulilllah arahnya memang ke Grogol. Sayang, karena di Grogol banjir besar, bisnya ga mau sampai Grogol, dan turunlah kami di tempat yang masih sekitar 1-2 kilo dari Grogol.
Dari tempat itu, mobil-mobil sudah pada ngantri di jalan, gak bergerak, yang mau ke arah Grogol. Kami dengan leluasa menyelinap di deretan mobil-mobil dan mulai berjalan mendekati Mal Citraland. Karena air yang meninggi, awalnya saya menggerek celana saya sampai setengah betis, tapi tetep kena juga, apalagi setelah melewati fly over Citraland, tepat di depan mall megah itu, airnya sudah setinggi setengah lutut saya, akhirnya saya pasrah. Temen saya, beruntunglah dia perempuan jangkung, airnya cuma sampai di betisnya. Di depan Citraland ini, kita sudah nyerah karena kecapean jalan, berusaha nungguin bis yang mungkin dateng. Tapi apa hendak dikata, jangankan bis kota, mobil kecil aja ga bisa lewat.
Akhirnya kami memutuskan untuk jalan sampai kos saya di Slipi, sementara dia berusaha menghubungi temannya untuk dijemput. Jadi malam itu kami berdua jalan, bersama dengan ratusan orang lainnya yang juga menempuh cara yang sama, berharap di daerah Tomang atau Slipi ada angkot yang ngangkut. Karena yang jalan ramai, jadi kami gak begitu kecapean, apalagi sambil ngobrol. Akhirnya, jam setengah 9 malam, saya sampai di kos saya, sementara temen saya dijemput di kos saya, dan harus melanjutkan perjalanan sampai di rumahnya di Depok.
Waw, Jakarta…Jakarta… banjirnya itu merepotkan, tapi sebenernya ngangenin juga hahahaa, gak heran banyak kaum urban yang tetep aja datang ke sana, hanya sekedar untuk memperoleh cerita-cerita lucu dan menarik darinya.
Ghie
Saturday, January 30, 2010
15.25 WIB