Well, ini mungkin postingan yang tidak menarik, jadi maafkanlah buat teman-teman yang mengetikkan “musim hujan” atau “musim penghujan” pada search enginee dan melayanglah ke blog saya. Kenapa tidak menarik? Karena postingan ini ya tentang cerita saya sendiri, hehehee… karena yang saya tahu, orang-orang tidak menyukai membaca cerita otobiografi orang tidak terkenal . Jadi kalau mau kabur dari blog ini juga gak apa-apa, tapi mungkin sebelumnya bisa juga liat-liat postingan saya yang lain hehehee… Saya nulis ini karena memang pengen nulis aja sih, karena ini juga salah satu kenangan “terindah” saya selama kerja di kota metropolitan.

Hampir dua tahun yang lalu, saya merasakan parahnya musim hujan. Februari 2008 di Jakarta. Kata orang siklus banjir besar di Jakarta berulang setiap lima tahun.

Banjir dimana-mana. Hari itu, kalau tidak salah hari Selasa atau Rabu, sore hari saya sudah mulai ketar ketir karena hujan tidak berhenti-berhenti. Tempat kerja saya berada di daerah Pluit, sedangkan saya ngekos di Slipi. Sudah jam lima sore, saatnya pulang kerja tapi saya dan teman-teman masih pada di kantor nunggu hujan reda. Teman kantor yang paling karib dengan saya yang ada di lantai dua kantor kami sudah turun dari jam setengah lima. Katanya lagi males-malesan kerja, apalagi lagi hujan. Akhirnya kami ngobrol aja sampai jam setengah enam.

Ketika setengah enam, hujan mulai mereda, kami mulai bergerak keluar kantor.  Di luar kantor, tepatnya di pinggir-pinggir jalan, kami lihat orang-orang pulang kerja sudah menumpuk, rupanya angkot Grogol-Pluit (kalau tidak salah) ga ada yang berani narik gara-gara banjir dimana-mana, takut mogok. Akhirnya kami menunggu angkot apa saja. Datanglah angkot yang menuju Kota, bodo amat akhirnya kami naik juga. Karena angkotnya cukup tinggi (seperti angkot LX 300), mungkin dia berani juga menembus banjir.

Tiba di perempatan manaa gitu saya juga lupa, angkotnya mo belok ke kiri arah Kota, ya memang ke arah kota sih angkot itu, terpaksa saya dan temen saya turun, akhirnya dari situ kami naik bis kota yang entah jurusannya kemana. Dari bis ini, alhamdulilllah arahnya memang ke Grogol. Sayang, karena di Grogol banjir besar, bisnya ga mau sampai Grogol, dan turunlah kami di tempat yang masih sekitar 1-2 kilo dari Grogol.

Dari tempat itu, mobil-mobil sudah pada ngantri di jalan, gak bergerak, yang mau ke arah Grogol. Kami dengan leluasa menyelinap di deretan mobil-mobil dan mulai berjalan mendekati Mal Citraland. Karena air yang meninggi, awalnya saya menggerek celana saya sampai setengah betis, tapi tetep kena juga, apalagi setelah melewati fly over Citraland, tepat di depan mall megah itu, airnya sudah setinggi setengah lutut saya, akhirnya saya pasrah. Temen saya, beruntunglah dia perempuan jangkung, airnya cuma sampai di betisnya. Di depan Citraland ini, kita sudah nyerah karena kecapean jalan, berusaha nungguin bis yang mungkin dateng. Tapi apa hendak dikata, jangankan bis kota, mobil kecil aja ga bisa lewat.

Akhirnya kami memutuskan untuk jalan sampai kos saya di Slipi, sementara dia berusaha menghubungi temannya untuk dijemput. Jadi malam itu kami berdua jalan, bersama dengan ratusan orang lainnya yang juga menempuh cara yang sama, berharap di daerah Tomang atau Slipi ada angkot yang ngangkut. Karena yang jalan ramai, jadi kami gak begitu kecapean, apalagi sambil ngobrol. Akhirnya, jam setengah 9 malam, saya sampai di kos saya, sementara temen saya dijemput di kos saya, dan harus melanjutkan perjalanan sampai di rumahnya di Depok.

Waw, Jakarta…Jakarta… banjirnya itu merepotkan, tapi sebenernya ngangenin juga hahahaa, gak heran banyak kaum urban yang tetep aja datang ke sana, hanya sekedar untuk memperoleh cerita-cerita lucu dan menarik darinya.

Ghie

Saturday, January 30, 2010

15.25 WIB

Awalnya saya pernah melihat film dengan judul yang sama muncul di sebuah bioskop di kota saya. Pintu terlarang. Waduh, film apaan nih, apalagi mukanya si Fahri Albar gede banget sampe ngabisin banner. Iseng-iseng saya cari resensinya, ternyata film itu diangkat dari sebuah novel karya Mbak Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama. Saya pikir, wah pasti filmnya berbau-bau berat dan psikologis banget (maksud saya, bener-bener menggali kejiwaan seseorang dengan sangat dalam dan membiarkan pembacanya larut dalam kejiwaan karakter-karakternya), yah agak-agak miriplah sama Ayu Utami kalo buat novel. Tapi waktu itu saya lupa kenapa sampe saya ga sempet nonton itu, yang jelas film itu gak lama beredar di bioskop itu, kalah sama film-film bergenre horor, heheee… ga tau sih, tapi kayaknya tipikal penonton di bioskop yang ITU memang gak jauh-jauh dari tema horor. Jadi kalau gak horor ya gak laku J.

Anyway, saya sempet lama juga nyari buku ini, sampai-sampai saya lupa. Dan baru akhir Desember kemarin gak sengaja ngeliat di toko buku, langsung deh diambil.

Pintu Terlarang berkisah tentang beberapa karakter yang sangat kuat, dilatarbelakangi sekelumit cerita mengenai bagaimana sampai karakter tersebut terbentuk hingga sampai menjadi yang seperti itu.

Pertama, Gambir, pematung sukses dan baru saja pameran tunggal dan dapet omzet bermilyar-milyar, actually ga ada yang salah dengan ni orang, yang salah adalah lingkungannya, dimana dia dibesarkan oleh Ibu yang kolot yang menganggap seniman bukanlah sebuah pekerjaan. Ibunya khawatir masa depan si Gambir gak jelas, karena dulunya juga bapaknya si Gambir ini adalah pelukis dan hidup keluarga mereka gak karuan karena ga ada penghasilan tetap. Satu lagi, yang bikin Gambir nih pusing adalah istrinya yang sangat dominan, tapi Gambir sayang banget dengan istrinya named Talyda ini. So, Gambir is wishy washy, takut istri, geblek sekaligus naif.

Talyda digambarkan sebagai karakter yang perfeksionis, mulai dari pakaian yang dipakai, masakan yang dibuat, dll. Tentu saja ini hasil “asuhan” orang tuanya, sama seperti Gambir. Karakter perfeksionis inilah yang membuat dia selalu ingin tampil sebagai istri yang sempurna, punya banyak ide brilian (sekaligus gila, sadis, dan tanpa perasaan), yang membuatnya terlihat menjadi penentu segalah hal di dalam keluarganya. Termasuk ketidakinginan mendapat anak dari Gambir.

Dinamika keluarga kecil ini mewarnai sekitar 60-70% novel Sekar, diselingi dengan cerita seorang anak kecil berumur 9 tahun yang selalu mendapat siksaaan dari kedua orang tuanya.

Karakter lain yang sesekali muncul adalah sosok Ranti, seorang wartawan, dan Dion, duda satu anak. Keduanya terlibat sangat intim di sebuah liputan tentang kekerasan terhadap anak-anak yang dilakukan orang tuanya. Karakter Ranti dan Dion memang tidak sekuat Gambir dan Talyda, tapi percayalah, merekalah inti ceritanya J.

Cerita mengalir hingga tiga cerita ini perlahan mulai menunjukkan benang merah hampir di akhir-akhir cerita. Ujungnya agak sadis *saya membayangkan gimana ya dengan filmnya*, walaupun ujungnya cukup happy ending (sebenernya apa sih arti hepi ending heheheee… pokoknya akhir ceritanya melegakan lah).

Kalo masalah cerita sih, Anda bisa cari sendiri novelnya, yang jelas tidak mengecewakanlah, terutama bagi yang suka novel-novel yang isinya adalah orang dengan karakter-karakter kuat, ambigu sekaligus menantang. Apalagi ditambah dengan alur cerita yang unpredictable, memang jalannya agak ketebak tapi ternyata tebakannya nyasar hehee… itupun gara-gara saya udah baca resensinya, coba kalo belum, pasti gak ketebak J.

Kalau dari sudut penuturan bahasa, cukup bagus, penekanan karakter dan dinamika ceritanya dapet, pembaca gak perlu mengerut-ngerutkan dahinya *beda misalnya dengan Mbak Dee kalau bikin cerita memang bahasanya agak tinggi*, asal sabar aja ngikutin jalan ceritanya, pasti sampe juga di poin alasan-alasan atau latar belakang si A melakukan sesuatu, si B dapet nih barang dari mana, dll.

Dari sudut tema ceritanya pun bagus, child abuse. Bagaimana sih kehidupan kejiwaaan seorang anak yang mengalami kekerasan domestik, bagaimana caranya “bertahan” dari ketidaksadarannya yang sudah schizofren, bagaimana ia bermain-main dengan imajinasinya “hanya” untuk bertahan dari ketidaksetimbangan psikologisnya. Bagus banget. Setelah membaca ini, saya jamin Anda akan mendapat lebih dari sekedar bacaan. Setelah Anda menutup lembar terakhir novel ini, niscaya Anda akan memulai lembaran baru di benak Anda sendiri. Percaya gak?

Novel ini saya rekomendasikan untuk pemerhati masalah kekerasan anak, mahasiswa psikologi (terutama klinis) dan siapapun yang ingin mencari lebih dari sekedar bacaan pengantar tidur J.

Mon, January 11st 2010

19.30 PM

Ketika sudah ia di sini,

Menjadi rutinitas kesayanganku,

Menjadi panduan wajibku,

Ia menjadi ada, nyata dan terharap,

Dan aku mulai bermimpi

Saat ia memberikan kehidupan,

Mudahnya ia mengerti gerakku,

Dan selalu berkenaan dengannya inginku,

Saat itu aku mulai bermimpi

Begitu ia ada,

Ia berarti dan melebihi gelegakku,

Ia menertawai kekonyolanku,

Ia menangisi kekecewaanku,

Dengan ia-lah, aku bermimpi

Menjadi bermimpi,

Mengenai hal-hal yang terang,

Tentang keindahan-keindahan yang nyata,

Ia menyulut semangat pagiku,

Menjadi matahariku,

Menjadi malam tenangku,

Menjadi salju dinginku,

Dan aku menjadi bermimpi,

Ia benar

Ia ingin aku

Ia kepinganku

Ia malaikatku

Dan tiada aku ingin mengurangi makna mimpiku,

Sehingga ia sampai menjadi

Wed, January 6th 2010

21.10 PM

Berhubung ini sudah di penghujung tahun, saya ingin ngobrol apa tayangan televisi yang sangat fenomenal di tahun 2009. Tentu banyak yang setuju bahwa salah satu jawabannya adalah program reality show (atau apa lah namanya saya juga ga ngerti) Take Me Out Indonesia dan Take Him Out Indonesia.  Setelah di tahun 2008, program yang cukup fenomenal menurut saya adalah “Termehek-Mehek” yang sempat naik daun dan menjadi trend setter program-program sejenis di stasiun televisi, namun akhirnya ratingnya jatuh gara-gara isu bahwa reality show itu dibuat-buat (yang akhirnya diamini bahwa memang ada beberapa bagian yang direka dengan alasan si empunya cerita tidak mau melakoni sendiri perannya). Ujung-ujungnya tulisan “reality show” diubah menjadi “drama reality.”

TMO Indonesia menaikkan lagi pamor Indosiar setelah beberapa waktu kiprahnya kurang bergaung setelah kesuksesan AFI dan Mamamia beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya saya sih bukan television-addict, tapi TMO ini memberi saya pandangan lebih dari sekedar ajang pencarian jodoh. Terlepas dari kontroversinya (dengan adanya isu untuk mengharamkan tayangan ini), TMO adalah suatu acara dimana kamu bisa melihat bagaimana cara seseorang memilih pasangannya. Percaya atau tidak, semakin kamu memperhatikan bagaimana karakter orang, kamu akan tahu, siapa yang bakal dipilihnya.

Ya, mengetahui karakter orang. Sebenarnya itulah tujuan utama saya menonton acara ini. TMO bisa mengasah intuisi kamu untuk mengenal kepribadian orang lain, mengetahui kira-kira apa yang diinginkan seseorang, bagaimana jalan pikirannya, bagaimana ia memaknai hidup, akan menuntunmu ke arah bagaimana ia memilih pasangan. Lebih jauh lagi, apakah ketika ia sudah memilih pasangannya, ia akan serius, atau cuma main-main. Yes, it works. Yah, minimal saya bisa mendapatkan pelajaran yang berharga tentang tipe-tipe orang dan bagaimana cara mengenali pribadinya, hingga perilaku apa yang mungkin akan muncul saat ia memilih pasangan. Sebab, memilih pasangan hidup (syaratnya memang serius ya), sama seperti memilih jalan hidup, sama seperti memilih kepribadian tertentu untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Sebab saya percaya, televisi adalah suatu barang yang netral. Which is dia akan menjadi barang yang memberikan dampak negatif atau positif, ya tergantung bagaimana kamu memaknainya.

Saturday, Dec 26th 2009, 22.45 PM

Setelah proyek rekrutmen calon karyawan baru yang berakhir sekitar pertengahan tahun, saya kembali terlibat dalam satu pekerjaan besar lainnya. Kegiatan Survey Kepuasan Kerja Karyawan. Awalnya saya diikutkan mengingat latar belakang pendidikan saya yang pernah belajar konstruksi alat ukur, sehingga diperlukan untuk membuat alat ukur survey dalam bentuk kuesioner. Mulai sekitar bulan puasa(Agustus-September 2009), saya tergabung dalam tim ini. Alhamdulillah sekitar bulan Oktober, kegiatan survey kepuasan kerja secara internal sudah selesai. Dan pada bulan yang sama jugalah, kegiatan survey yang sama dicetuskan oleh holding company (dimana perwakilan dari perusahaan tempat saya bekerja ditunjuk sebagai ketua tim surveynya). Dan saya kembali dipercaya untuk masuk ke dalam tim survey, sampai sekarang proses tersebut masih berjalan, dan diharapkan akhir Januari 2010 sudah muncul laporannya. Jadi kalau dipikir-pikir, dalam setengah tahun terakhir, inilah proyek besar saya selain pekerjaan-pekerjaan rutin lainnya J

Eniwey, pada postingan ini saya tidak akan bercerita tentang proses survey, apalagi membahas teorinya. Ya mungkin kalau saya lagi iseng, di kesempatan lain sajalah. Yang ingin saya sharing sekarang adalah makna sebuah istilah “Kepuasan Kerja” bagi seorang karyawan.

Ada sebuah pernyataan yang cukup menggelitik saya ditengah-tengah saya sedang melaksanakan survey ini. Seseorang pernah bertanya retorik “Survey Kepuasan Kerja adalah sesuatu yang sangat subjektif dan utopis, karena yang namanya manusia tidak akan pernah puas.” Saya pikir-pikir lagi ucapan itu (sambil tetap saja mengerjakan survey), betul juga. Itu pertama. Kedua, apakah tujuan survey itu sendiri? Ingin mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan seorang karyawan? Lalu, manakah yang baik, karyawan yang puas atau karyawan yang tidak pernah puas? Bukankah karyawan yang tidak pernah puas, itu justru baik bila perusahaan ingin berkembang?

Bila melihat Key Performance Indicator (KPI) atasan, tentu saja seorang pemilik perusahaan, direksi, komisaris, atau even seorang manajer di unit kerjanya, menginginkan tingkat kepuasan kerja yang tinggi, karena bila saat diukur, tingkat kepuasan kerja tinggi, maka KPInya tinggi. Lebih dari itu, kepuasan kerja yang tinggi dari seorang karyawan dianggap sebagai “pencapaian” (untuk tidak menyebutnya “tujuan akhir”) dari seorang atasan atau owner, karena itu berarti dia dapat memberikan kepuasan bagi bawahan atau karyawannya. Selain itu, banyak juga penelitian yang menunjukkan bahwa kepuasan kerja berhubungan dengan tingkat produktivitas, turn over rendah, tingkat absensi rendah, dan sebagainya, sehingga membuat orang percaya dan berlomba-lomba menginginkan indeks kepuasan kerja yang tinggi.

Disisi lain, dengan antitesis bahwa kepuasan kerja yang tinggi akan membuat sang atasan atau owner berada di zona nyamannya, merasa comfort dengan keadaannya karena merasa bahwa karyawan-karyawannya puas, justru membuat suatu perusahaan terkadang melupakan arti kemajuan dan gebrakan.

Selain itu, kadang kita melupakan arti sebuah survey. Bagi sebagian orang, suatu survey adalah kegiatan pencarian pendapat, penghargaan atas suara dan opini mereka. Pernyataan saya ini memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada penghargaan, disisi lain, ada suatu harapan yang secara tidak kasat mata muncul ketika kita melakukan kegiatan ini. Itu sebabnya, kegiatan survey (apalagi survey kepuasan, entah kepuasan kerja, kepuasan pelanggan, dll), lebih merupakan ajang curhat. Hal ini tentu saja baik, dan saya termasuk salah satu orang yang mendukung kegiatan-kegiatan pencarian opini dari akar rumput. Namun disisi lain, bila tidak berkelanjutan atau tidak ada improvement yang berarti setelah kegiatan survey, bisa jadi orang-orang seperti ini berhenti berharap, sehingga muncul perilaku-perilaku negatif, mulai dari withdrawal, avoiding, hingga antipati terhadap survey sejenis.

Kembali ke permasalahan “puas tidak puas” dan “orang itu tidak akan pernah puas”, dan kepuasan adalah suatu konstruk yang sifatnya sangat subjektif dan situasional. Sampai sekarang, meskipun saya mencoba membuat suatu alat ukur yang sedemikian, dengan berkiblat pada beberapa teori (seperti Hezberg atau ERG atau Maslow, atau mengadopt beberapa isi MSQ-Minnesotta Satisfaction Questionnaire), tetap saja sulit untuk membuat seseorang menilai secara objektif dan keseluruhan, karena bagaimanapun, kepuasan adalah sesuatu yang sangat personal, sulit dijabarkan dengan kata-kata.

Namun demikian, kegiatan survey bukanlah hal yang buruk selama kita mengetahui pasti tujuan-tujuan kita, adanya improvement commitment, hingga kegiatan survey hendaknya dilaksanakan secara berkelanjutan dan rutin adanya. Sangatlah mungkin untuk mengkombinasikan survey kepuasan kerja dengan kegiatan lain (yang masih saya pikirkan format dan isinya), sehingga potret karyawan secara keseluruhan dapat terbaca. Hmm, ada yang ingin memberi pendapat?

Saturday, Dec 26th 2009, 17.30 PM

26 Desember 2004,

Aku, kamu, kita, tersentak

Melihat lautan manusia yang tidak bernyawa

Ketika aku injakkan kakiku di bumi Aceh,

Gemetar aku, tak kusangka sedahsyat ini

Ratusan orang yang kutemui mendadak diam

Ketika kami menanyakan bagaimana perasaan mereka

Bukan amarah, tapi keputusasaan

Ketidakberdayaan yang tidak bertuan

Lima tahun yang lalu masih kuingat, ketika aku pun merasa tidak berdaya

Hanya anggukan, sentuhan lembut, bahkan genggaman keras yang kuberikan

Pada lengan-lengan perempuan yang menanggung beban

Pada jemari-jemari anak-anak cilik yang berlarian di sekeliling tenda pengungsian

Pada mereka aku pun tidak sanggup

Memberikan kekuatanku yang tersisa, hanya karena akupun lemah

Hanya karena akupun tidak tahu bila itu terjadi padaku, apa yang akan kuperbuat

Kala seorang lelaki berpakaian tentara menggeram,

Setelah peristiwa itu, ia membawa-bawa kantung mayat kemana-mana

Karena sewaktu tsunami, istri dan anaknya sudah menjadi mayat

Dan ditaruhnya di boncengan motornya

Terisak ia, ingin rasanya menurunkan kantung mayat kosong itu

Karena ia merasa seperti orang hilang iman

Dan tak percaya takdir

Dan tak hanya itu, seorang perempuan letih,

Renta dan tertatih menyapaku

Dan menanyakan apakah dia boleh membawa sebuah mainan yang aku bagikan

Katanya untuk anaknya

Ketika kutanya dimana anaknya, mengapa tak diajak serta

Dia hanya tersenyum dan berlalu

Dan barulah kutahu, anaknya sudah tiada

Bersama kerinduan ibunda, untuk jikalau bisa, ialah yang dipanggil Yang Kuasa

Anaknya tak perlu menghadap, hanya karena ia masih layak punya masa depan

Tapi apa daya kita Ibu, takdir tiada ada yang sanggup menahan

Aku terisak tanpa menangis

Kini lima tahun sudah berlalu,

Mereka yang kukenang mungkin sudah tegak

Dan kuharap pun begitu

Sedikit serpihan kenangan-kenanganku mengalun,

Bersama sepatah doa lirih

Semoga tak ada lagi perih untuk mereka.

Saturday, Dec 26 th 2009, 11.15 PM

Untuk mengenang lima tahun tragedi tsunami Aceh,

Bersama aliran kenangan sahabat-sahabat PMI Aceh, Jabar, Sumut, Riau dan Tim PSP-PMI Pusat

Buku Cinderella Man yang ditulis oleh Marc Cerasini baru saja saya beli beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya agak-agak telat sih, karena kisah biografi sang Cinderella Man sudah difilmkan beberapa tahun yang lalu dengan aktor Russell Crowe dan Renee Zellweger (bener gak ya tulisannya hehehe), dan kalau tidak salah sempat menggondol beberapa penghargaan bergengsi. Buku ini juga sudah lama masuk daftar tunggu saya, tapi mengingat saya belum begitu tertarik membelinya, saya mengurungkan niat saya selama beberapa lama. Hingga suatu hari buku ini terpajang di suatu toko (bukan toko sih, tapi semacam penjual buku di emperan plaza), dengan harga yang lumayan murah. Bersama beberapa buku lain, saya membeli kalau tidak salah enam buku seharga 140 ribu rupiah. Hehehee….murah kan..

So, mungkin resensinya sudah dibaca ribuan kali oleh orang-orang yang tertarik dengan biografi sang petinju ini. Tapi tidak ada salahnya saya menulis ulang sekilas sekaligus memberikan opini saya tentang buku ini. Kisah seorang petinju, Jim Braddock, yang hidup pada masa resesi (ingat Black Tuesday? 29 Oktober 1929?), dimana keuangan dunia amblas ke titik terendah. Jutaan orang awam yang berharap mendapatkan uang lima kali lipat dengan menginvestasikan uangnya di pasar saham terpaksa gigit jari, menganggur, bahkan turun pangkat menjadi gelandangan.

Saat itulah seorang Jim Braddock yang berprofesi sebagai petinju, pada awalnya memiliki segalanya, tiba-tiba harus kehilangan seluruh hartanya. Braddock bersama keluarganya, seorang istri yang sangat dicintainya dan tiga anak yang masih kecil, terpaksa mengontrak di sebuah apartemen kecil yang terpaksa memakai lilin di malam hari akibat tunggakan listrik berbulan-bulan, padahal saat itu sedang musim dingin. Braddock terpaksa mencari penghidupan di pelabuhan, dimana ia dan puluhan orang menjadi kuli panggul.

Adalah seorang Joe Gould, manajer tinju Braddock yang terus mendekati Braddock untuk tetap bertinju. Meskipun mendapat tentangan yang keras dari Mae, istrinya, Braddock nekat untuk menjadi “mangsa” petinju-petinju kelas kakap, a.k.a sand sack-nya mereka sebelum menghadapi petinju yang sesungguhnya, demi menghidupi istri dan anak-anaknya. Tak dinyana, Braddock berhasil memenangkan pertarungan demi pertarungan, hingga pertarungan puncak, dimana ia harus menghadapi seorang petinju berdarah dingin yang sudah membunuh dua orang di ring tinju.

Saya menyukai kisah si Braddock ini, seperti yang ada di sampul bukunya : The toughest game is the game of life. Seorang suami dan ayah, memiliki rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap keluarganya, rela mempertaruhkan nyawanya demi orang-orang yang dia cintai. Baginya bertinju bukanlah mencari kesenangan, tapi semata-mata untuk memperoleh sedikit uang untuk ia hidup dan membayar hutang. Selain itu, buku ini juga menggambarkan bagaimana Amerika di masa resesi. Saya yakin filmnya bagus (karena saya belum pernah nonton juga).

Sayang, saya kurang begitu tertarik dengan cara Cerasini menuliskan cerita ini. Entah kenapa, kok saya ga dapet feel-nya. Ga ada perasaan geregetan, marah, sedih, gembira atau lainnya saat membaca hari-hari Braddock yang penuh kepedihan. Ada sih, tapi ga banyak. Padahal kalau saya berimajinasi sendiri, saya merasa si Braddock ini benar-benar menderita dan helpless. Mungkin karena ini novel terjemahan? Mungkin saja, ya itu salah satu kelemahan novel terjemahan. Makanya saya lebih senang beli novelnya yang asli pake bahasa Inggris, biar lebih kerasa feelnya. Anyway, secara umum tidak ada masalah sih, karena walaupun kurang berasa dari sisi sastra, tapi pelajaran hidup yang saya peroleh dari novel ini sungguh inspiratif dan luar biasa.

Thrusday, Dec 10th 2009, 19.30 PM

Next Page »